Mengapa Sistem Pendingin Ruangan Gedung Tak Bisa Dipilih Sembarangan? Ini Kaitannya dengan Efisiensi Energi
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Pendingin ruangan membuat aktivitas di kantor, hotel, pusat perbelanjaan, dan gedung komersial tetap nyaman. Namun, di balik kenyamanan tersebut, sistem pendingin dan tata udara juga membutuhkan energi untuk beroperasi.
Ketika kebutuhan pendinginan meningkat, pengelolaan energi bangunan menjadi persoalan penting, terutama bagi pengelola gedung yang ingin menekan biaya operasional sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Tantangan ini tidak hanya dihadapi Indonesia. International Energy Agency (IEA) mencatat bangunan menyumbang sekitar 30% permintaan energi global pada 2024. Angka tersebut mencakup bangunan tempat tinggal serta bangunan komersial dan publik. Artinya, peningkatan efisiensi gedung dapat menjadi bagian penting dari upaya mengendalikan konsumsi energi.
Sejumlah negara maju telah memasukkan efisiensi energi bangunan ke dalam kebijakan jangka panjang. Uni Eropa, misalnya, menerapkan pembaruan aturan kinerja energi bangunan dengan sasaran menuju bangunan tanpa emisi pada 2050.
Komisi Eropa menyebut bangunan menyumbang sekitar 40% konsumsi energi dan 36% emisi gas rumah kaca terkait energi di kawasan tersebut. Sementara itu, di Amerika Serikat, sistem pemanas, pendingin, dan ventilasi diperkirakan menggunakan sekitar 40% energi pada bangunan komersial.
Data ini memperlihatkan bahwa pemilihan teknologi dan pengelolaan operasional gedung bukan sekadar urusan kenyamanan, melainkan juga bagian dari strategi efisiensi energi.
Efisiensi Bangunan Dimulai dari Sistem yang Tepat
Kinerja energi sebuah gedung dipengaruhi banyak faktor, mulai dari desain arsitektur, pencahayaan, ventilasi, kualitas insulasi, hingga peralatan yang digunakan sehari-hari. Karena itu, upaya menghemat energi tidak cukup hanya dengan mengganti perangkat ke model yang lebih baru.
Pengelola perlu memahami kebutuhan bangunan, pola penggunaan ruangan, serta bagaimana sistem-sistem di dalamnya bekerja secara terpadu.
Sistem HVAC—singkatan dari heating, ventilation, and air conditioning—menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Sistem ini mengatur suhu, sirkulasi udara, dan kenyamanan termal penghuni. Pada gedung komersial, kebutuhan pendinginan dapat berbeda antara ruang rapat, lobi, area kerja, dan ruang yang jarang digunakan.
Mengoperasikan pendingin pada kapasitas yang sama sepanjang waktu berpotensi membuat energi terpakai tidak sesuai kebutuhan aktual. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam sistem tata udara modern adalah menyesuaikan kapasitas pendinginan dengan beban di setiap area.
Teknologi seperti ini dapat membantu mengoptimalkan konsumsi energi, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada desain sistem, kondisi bangunan, pengaturan suhu, pemeliharaan, dan kebiasaan pengguna.
Pengelola gedung juga perlu memperhatikan biaya sepanjang masa penggunaan perangkat, bukan hanya harga pembelian awal. Sistem yang dirancang sesuai kebutuhan dan dirawat dengan baik berpeluang mendukung operasional yang lebih efisien dalam jangka panjang.
Dengan demikian, efisiensi perlu dinilai melalui kinerja aktual, konsumsi energi, kenyamanan pengguna, dan biaya pemeliharaan.
Negara Maju Perkuat Standar dan Pengelolaan Energi Bangunan
Pengalaman negara maju menunjukkan bahwa efisiensi energi membutuhkan kombinasi teknologi, standar, dan perubahan cara mengelola bangunan. Uni Eropa memperbarui Energy Performance of Buildings Directive untuk mendorong peningkatan kinerja energi bangunan, renovasi gedung yang kurang efisien, serta transisi menuju bangunan tanpa emisi.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa pembenahan bangunan lama sama pentingnya dengan menerapkan standar yang lebih baik pada bangunan baru.
Di Amerika Serikat, program Better Buildings dari Departemen Energi mendorong pelaku industri dan pengelola fasilitas menerapkan strategi penghematan energi, termasuk melalui perbaikan sistem pengondisian udara.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi yang efisien perlu diikuti pengukuran dan evaluasi operasional agar potensi penghematan dapat diketahui.
Bagi Indonesia, pelajaran pentingnya adalah mengintegrasikan efisiensi sejak tahap perencanaan, pemilihan peralatan, hingga pengoperasian gedung.
Sistem pendingin yang tepat dapat menjadi salah satu komponen, tetapi bukan satu-satunya solusi. Pengaturan suhu yang wajar, perawatan berkala, pemantauan penggunaan listrik, serta desain bangunan yang mempertimbangkan iklim setempat juga diperlukan.
Berdasarkan roadmap pengembangan bangunan hijau pemerintah yang dirujuk dalam materi terkait, sektor bangunan menyumbang sekitar 33% emisi gas rumah kaca Indonesia pada periode 2011–2021.
Pemerintah juga menargetkan pengurangan emisi sebesar 1,91 juta ton CO₂e dari subsektor bangunan komersial melalui berbagai langkah efisiensi energi hingga 2030. Target ini menempatkan pengelolaan energi gedung sebagai salah satu bagian dari agenda pengurangan emisi nasional.
Sertifikasi Produk Menjadi Referensi, Bukan Satu-satunya Ukuran
Di Indonesia, penerapan prinsip bangunan berkelanjutan turut mendorong perhatian terhadap pemilihan sistem tata udara. Sertifikasi lingkungan dapat membantu pemilik dan pengelola gedung mengenali aspek yang dinilai pada suatu produk, tetapi penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi proyek.
“Penerapan prinsip bangunan hijau membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, termasuk dalam pemilihan sistem tata udara yang dapat mendukung efisiensi energi dan kinerja bangunan,” ujar Meli Nuraeni, Assistant General Manager Consulting Sales PT Daikin Airconditioning Indonesia.
Sosialisasi produk tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga memberikan wawasan tentang pemilihan sistem tata udara berdasarkan kebutuhan bangunan dan prinsip keberlanjutan.
Melalui seminar di berbagai kota, perusahaan mengajak konsultan, kontraktor, pengembang, pemilik, serta pengelola gedung membahas kebutuhan pendinginan, efisiensi energi, fleksibilitas desain, dan aspek operasional. Setiap bangunan memiliki karakteristik berbeda sehingga pemilihan sistem perlu mempertimbangkan kebutuhan spesifik proyek.
Dalam materi yang disampaikan, Daikin menyebut sistem VRV 6X dan VRV 6A telah memperoleh predikat Platinum dari Green Product Council Indonesia (GPCI), tingkat tertinggi dalam skema Green Label Indonesia.
Keduanya juga disebut sebagai produk AC VRV pertama yang meraih sertifikasi tersebut, dengan penilaian yang mencakup material, kualitas produk, proses manufaktur, pengelolaan lingkungan dan limbah, serta Extended Producer Responsibility (EPR).
“Sertifikasi menjadi salah satu referensi yang dapat membantu para pemangku kepentingan dalam mempertimbangkan aspek lingkungan suatu produk. Di sisi lain, edukasi diperlukan agar pemahaman mengenai penerapannya dalam proyek dapat semakin berkembang,” kata Meli.
“Perkembangan bangunan hijau membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Melalui kegiatan ini kami berharap dapat memperluas pemahaman mengenai peran sistem tata udara dalam mendukung efisiensi energi dan keberlanjutan bangunan di Indonesia,” tambahnya.
- ist
Pada akhirnya, inti persoalannya bukan semata-mata memilih merek atau perangkat pendingin tertentu. Efisiensi energi gedung membutuhkan keputusan yang didasarkan pada kebutuhan bangunan, kinerja sistem, pemeliharaan, dan pemantauan konsumsi energi.
Sertifikasi dapat menjadi salah satu referensi dalam proses tersebut, sementara dampak lingkungan yang sesungguhnya perlu dilihat dari penerapan dan kinerja operasional bangunan secara menyeluruh. VRV 6X dan VRV 6A menjadi salah satu contoh produk yang memperoleh sertifikasi lingkungan, sekaligus mengangkat kembali pentingnya memilih sistem tata udara sebagai bagian dari strategi bangunan berkelanjutan. (udn)
Load more