Hari Kesaktian Pancasila, Ray Rangkuti Singgung Korupsi hingga Penangkapan yang Sembrono: ‘Kita Senang dengan Slogan’
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober menjadi momentum untuk kembali melihat sejauh mana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, bagi Direktur Lingkar Madani (LIMA) sekaligus pengamat politik Ray Rangkuti, peringatan tersebut jangan berhenti pada seremoni dan slogan.
Ray justru menyoroti jarak antara jargon tentang Pancasila dengan berbagai persoalan yang masih terjadi di tengah masyarakat. Ia menyinggung korupsi pejabat, penghormatan terhadap kemanusiaan, penangkapan warga, demokrasi, hingga keadilan sosial.
“Kita ini apa, bangsa yang sangat senang dengan slogan-slogan, ya. ‘NKRI harga mati’, ‘Pancasila sakti’, macam-macam lah,” kata Ray pada tim tvOnenews.com, Rabu (30/09/26).
Menurutnya, nilai Pancasila seharusnya dapat dilihat melalui tindakan nyata. Ia kemudian mengaitkan sejumlah persoalan tersebut dengan sila-sila Pancasila.
Ray Rangkuti Pertanyakan Sila Ketuhanan dan Korupsi Pejabat
Ray mengawali kritiknya dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ia mempertanyakan mengapa nilai tersebut belum cukup tercermin dalam perilaku sebagian pejabat, terutama ketika masih ditemukan kasus korupsi.
“Misalnya ya, bunyi pertama soal Ketuhanan Yang Maha Esa. Mengapa bunyi pasal ini enggak menghentikan para pejabat untuk tidak korupsi?” ujar Ray.
Bagi Ray, nilai Ketuhanan tidak semestinya berhenti sebagai prinsip yang dibacakan dalam berbagai seremoni. Nilai tersebut, menurutnya, perlu tercermin dalam perilaku penyelenggara negara.
Dari persoalan korupsi, Ray kemudian mengarah pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ia mempertanyakan apakah prinsip tersebut sudah benar-benar tercermin dalam cara negara memperlakukan masyarakat.
“Pasal kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Apa benar bahwa negara kita berada dalam posisi yang benar-benar menghormati kemanusiaan manusia?” katanya.
Ray lalu menyinggung penangkapan warga dalam sejumlah aksi demonstrasi.
“Sekarang kalau kita lihat penangkapan demi penangkapan dilakukan, hanya karena alasan mereka dianggap melakukan kek... apa, mengganggu ketertiban umum misalnya ya,” ujar Ray.
Ia merujuk pada peristiwa Agustus 2025 dan Agustus 2026. Menurut Ray, ribuan orang ditangkap pada Agustus 2025, sedangkan pada Agustus 2026 terdapat ratusan orang yang diamankan dan kemudian sebagian dilepaskan.
Load more