Krisis Air Jadi Inspirasi, Siswa SMA Jakarta Ciptakan Alat Pemanen Air dari Udara: Sabet Juara National Innovation Challenge 2026
- Ilustrasi
Pemerintah Singapura kemudian membangun sistem pasokan yang terdiversifikasi melalui empat sumber utama, yakni air tangkapan lokal, air impor, NEWater atau air hasil daur ulang berkualitas tinggi, serta air desalinasi.
Pengalaman tersebut menunjukkan satu hal penting: ketahanan air tidak cukup hanya mengandalkan satu sumber. Teknologi pemanen air dari udara dapat menjadi salah satu alternatif, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada kelembapan, temperatur, konsumsi energi, kualitas hasil air, serta biaya pengoperasian.
Dari Masalah di Sekitar Menjadi Proyek Inovasi Pelajar
Semangat mencari solusi itulah yang kemudian menjadi bagian dari program Young Voices for a Sustainable Future – Innovation Challenge for a Just Transition, yang digelar BASF Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI).
Sejak April 2026, program tersebut melibatkan 100 siswa yang terbagi dalam 20 tim dari 16 SMA di wilayah Jabodetabek.
Para peserta diminta melihat berbagai persoalan yang muncul di sekolah maupun lingkungan masyarakat, kemudian mengubahnya menjadi gagasan yang dapat dikembangkan menggunakan pendekatan STEAM—Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics.
Masalah yang diangkat cukup beragam. Ada peserta yang mengembangkan gagasan terkait limbah makanan, limbah tekstil dan organik, pencemaran lingkungan, energi alternatif, hingga persoalan air bersih. Ide-ide tersebut kemudian diarahkan menjadi produk, perangkat teknologi maupun platform digital.
Melansir dari laman resmi, prosesnya juga tidak berhenti pada membuat gagasan. Para siswa melakukan riset, menentukan masalah, memahami calon pengguna, menyusun proposal, hingga merancang pengembangan prototipe.
Mereka mendapatkan pendampingan mentor untuk menguji apakah solusi yang ditawarkan benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat. Hal tersebut dinilai penting karena inovasi tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga kemampuan memahami masalah.
“Program ini memberi ruang bagi siswa untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Melalui proses mengenali persoalan dan mengembangkan solusi, siswa mengasah penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Pengalaman belajar seperti ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mewujudkan delapan dimensi profil lulusan,” ungkap Rurry Fatchurrachman, Kasubtim Peserta Didik, Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Load more