Bukan Cuma Panel Surya, Ini 5 Tantangan Besar Transisi Energi di Asia Tenggara
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Harga panel surya yang semakin kompetitif belum otomatis membuat transisi energi berjalan mulus. Di Asia Tenggara, tantangan sesungguhnya justru muncul setelah listrik bersih berhasil diproduksi: bagaimana menyalurkannya ke masyarakat, menyimpan kelebihan energi, dan memastikan pasokannya tetap tersedia ketika matahari tidak bersinar.
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kebutuhan listrik meningkat, sementara pembangunan jaringan transmisi membutuhkan waktu dan investasi besar.Â
Negara-negara di kawasan ASEAN pun perlu memikirkan cara menyediakan listrik yang tidak hanya rendah emisi, tetapi juga andal, terjangkau, dan menjangkau masyarakat di daerah terpencil maupun kepulauan.
Pengalaman negara maju menunjukkan bahwa penambahan pembangkit energi terbarukan harus diikuti pembenahan infrastruktur. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat sedikitnya 1.700 gigawatt (GW) proyek energi terbarukan dan 600 GW proyek baterai skala jaringan yang telah memasuki tahap pengembangan lanjut masih mengantre koneksi pada 2025.Â
Kemacetan jaringan listrik pada 2024 juga menimbulkan biaya sekitar US$12 miliar di Amerika Serikat dan 4,3 miliar euro di Uni Eropa. Data tersebut memperlihatkan bahwa masalah integrasi energi bersih bukan hanya dihadapi negara berkembang.
Jaringan Listrik dan Baterai Jadi Tantangan Utama Transisi Energi
Persoalan integrasi energi terbarukan menjadi perhatian dalam forum Distributed Power Generation and Battery Energy Storage yang digelar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Tenggara Strategics di Bangkok Climate Action Week 2026, pada 8 Oktober 2026.
Forum yang berlangsung di Movenpick BDMS, Bangkok, tersebut menyoroti perubahan tantangan transisi energi. Ketika teknologi surya semakin berkembang, pekerjaan berikutnya adalah membangun sistem kelistrikan yang mampu menyerap, menyimpan, dan mendistribusikan listrik secara efisien.
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah menggabungkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap, instalasi surya untuk kebutuhan komersial, serta jaringan mini dengan Battery Energy Storage System (BESS). Kombinasi ini dapat dikembangkan secara modular dan berpotensi dibangun lebih cepat dibandingkan menunggu perluasan jaringan konvensional di sejumlah wilayah.
Pentingnya penyimpanan energi juga terlihat di Australia. Pemerintah negara tersebut menjelaskan bahwa baterai dapat menyimpan kelebihan listrik dari energi terbarukan ketika produksi tinggi, kemudian memasoknya kembali saat dibutuhkan.Â
Load more