Bukan Cuma Panel Surya, Ini 5 Tantangan Besar Transisi Energi di Asia Tenggara
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Keamanan Baterai dan Kesiapan Infrastruktur Tak Boleh Diabaikan
Semakin luas penggunaan baterai, semakin penting pula standar keselamatan dan pengelolaan perangkat setelah masa pakainya berakhir. Sistem penyimpanan energi bukan sekadar perangkat tambahan, melainkan bagian dari infrastruktur kelistrikan yang harus dirancang dengan memperhitungkan risiko operasional.
Dr. Joey Ocon, Principal Strategist bidang Energy Transition di Forum for the Future Southeast Asia sekaligus President dan CTO Nascent Technologies Corp., menekankan bahwa negara-negara Asia Tenggara dapat memanfaatkan standar yang sudah teruji sebelum memperluas proyek hingga skala gigawatt.
- ist
“Asia Tenggara tidak perlu merumuskan aturan baru terkait baterai, melainkan cukup mengadopsi standar yang telah teruji sebelum proyek berskala gigawatt beroperasi: sertifikasi keseluruhan sistem berdasarkan data uji ketahanan api yang nyata, libatkan otoritas pemadam kebakaran dalam penentuan lokasi, dan pastikan setiap baterai memiliki penanggung jawab di akhir masa pakainya,” ujarnya.
Menurutnya, prioritas pada keselamatan dan daur ulang sejak awal menjadi bagian penting untuk memastikan penggunaan sistem penyimpanan energi dapat bertahan dalam jangka panjang.
Mada Ayu Habsari juga mengajak para pemangku kepentingan regional menyelaraskan kebijakan dan memperbaiki proses perizinan. “Dengan perizinan yang adaptif dan agregasi proyek, kita dapat mengubah tantangan ini menjadi daya tarik bagi modal global,” tambahnya.
Tantangan terbesar transisi energi di Asia Tenggara bukan semata-mata menyediakan lebih banyak panel surya, melainkan membangun sistem yang mampu menghubungkan pembangkit, baterai, jaringan listrik, pendanaan, dan kebutuhan masyarakat.
Tanpa kesiapan seluruh ekosistem tersebut, pertumbuhan kapasitas energi terbarukan belum tentu berbanding lurus dengan pemerataan akses listrik bersih. (udn)
Load more