Sebelum Meninggal, Bocah Difabel di Surabaya Ditemukan dengan Bekas Tamparan dan Pasir di Tubuh
- Tangkapan layar Youtube tvOnenews
Jakarta, tvOnenews.com - Kematian Zulkarnain Abdil Aziz (10), anak berkebutuhan khusus (ABK) di Surabaya, menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya bagi keluarganya. Ia ditemukan dalam kondisi tubuh membiru dengan tali sepatu melilit lehernya di depan rumah pada 12 September 2026.
Ayah korban, Selaras Abdul, menduga putranya meninggal dunia setelah mengalami perundungan yang diduga melibatkan dua anak tetangganya, masing-masing berusia 10 dan 8 tahun. Hingga kini, keluarga masih mempertanyakan penyebab pasti kematian Zulkarnain dan meminta keadilan.
Laras menjelaskan bahwa putranya merupakan penyandang Down syndrome dan cerebral palsy yang membutuhkan perawatan khusus sepanjang hidupnya. Sejak bayi hingga berusia 10 tahun, Zulkarnain mengalami keterbatasan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
- Tangkapan layar Youtube tvOnenews
"Anak saya, dari mulai bayi, sampai umur 10 tahun ini, itu tidak bisa berakitivitas, jalan nggak bisa, ngomong nggak bisa, melihat juga nggak bisa, penyakitnya itu katarak, down syndrome, jantung bocor, terus telur burungnya itu, tidak pada tempatnya, tapi ada di perutnya," ujar Laras dalam wawancara dilansir tayangan Apa Kabar Indonesia Malam tvOne.
Ia juga mengungkapkan bahwa putranya telah menjalani sejumlah operasi sejak masih bayi hingga berusia lima tahun.
Meski demikian, masih ada penanganan medis yang perlu dilakukan, khususnya terkait kondisi mata korban.
"Tinggal tunggu pasang lensa dimatanya, nunggu sampai umur 7 tahun baru dipasang, karena alasan dokternya waktu umur 5 tahun, kelopak matanya masih kecil," katanya.
Di tengah duka yang dialami keluarga, Laras turut mengungkapkan sejumlah kejadian yang menurutnya menimbulkan kecurigaan adanya dugaan perundungan terhadap putranya sebelum meninggal dunia.
Salah satu kejadian yang disorotnya adalah ditemukannya bekas tamparan pada tubuh Zulkarnain sekitar satu minggu sebelum peristiwa kematian tersebut.
"Seminggu sebelum kejadian, anak saya sudah ada (bekas) tampar (sekitar dada), saya lihat waktu keluar dari rumah, 'loh, anak saya ini dapat tampar dari mana, lah wong anak saya ini nggak bisa ambil apa-apa, dikasih pegang uang gitu, dilepas, nggak bisa pegang anak saya itu," ungkapnya.
Temuan tersebut membuat Laras merasa heran karena kondisi putranya yang memiliki keterbatasan fisik membuatnya tidak mampu melakukan banyak aktivitas secara mandiri. Ia pun mempertanyakan asal-usul bekas tamparan yang ditemukan pada tubuh anaknya.
Load more