Kelompok Kemanusiaan Kesulitan Kirim Bantuan ke Warga Sipil di Israel dan Gaza
- (AP Photo/Hassan Ammar)
New York - Lembaga kemanusiaan yang berupaya memberikan bantuan bagi warga sipil yang terjebak perang antara Israel dan Hamas kesulitan kirim bantuan. Hal ini terjadi karena semakin intensifnya blokade Gaza dan pertempuran yang sedang berlangsung.
Dikutip dari AP, Selasa (10/10/2023), dua hari setelah serangan kelompok Hamas, militer Israel meningkatkan serangan udara di Gaza dan memblokir makanan, bahan bakar, dan pasokan lainnya untuk masuk ke wilayah tersebut.
Meningkatnya eskalasi pertempuran membuat PBB dan lembaga kemanusiaan pemberi bantuan khawatir dengan kondisi 2,3 juta warga sipil di Gaza. Selain di Gaza, kelompok kemanusiaan juga menyebut warga sipil di Israel juga membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Bantuan Sulit Masuk ke Gaza
Lebih dari 2 ton pasokan medis dari Bulan Sabit Merah Mesir telah dikirim ke Gaza dan sedang berupaya membagikannya kepada warga sipil, kata seorang pejabat militer Mesir tanpa menyebut namanya.
(Warga Palestina memeriksa puing-puing keluarga Abu Helal di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza, Senin, 9 Oktober 2023. Sumber: AP Photo/Hatem Ali)
PBB dan kelompok kemanusiaan memohon agar ada lebih banyak akses untuk membantu warga Palestina yang berada di tengah pertempuran sengit.
Doctors Without Borders, yang masih beroperasi di Gaza, harus bergantung pada pasokan terbatas, karena mereka tidak dapat membawa pasokan lagi, kata Emmanuel Massart, wakil koordinator organisasi tersebut di Brussels.
Lembaga Doctors Without Borders hanya bisa menjalankan program kemanusiaan di wilayah Palestina karena Israel memiliki layanan darurat dan kesehatan yang kuat.
Selain membantu pasien di Gaza, lembaga ini juga menyumbangkan pasokan medis ke klinik dan rumah sakit yang mulai kekurangan obat-obatan dan bahan bakar yang dapat digunakan untuk generator.
Jika Doctors Without Borders tidak dapat mengirimkan pasokan, maka mereka akan kehabisan pasokan yang dapat digunakan untuk mengoperasi pasien. Dia juga mengatakan karena fasilitas yang digunakan organisasi tersebut menggunakan generator karena rendahnya pasokan listrik, penghentian bahan bakar akan menimbulkan “masalah besar.”
“Jika tidak ada bahan bakar lagi, maka tidak ada fasilitas kesehatan lagi karena kami tidak dapat menjalankan fasilitas kesehatan kami tanpa energi,” kata Massart.
Load more