Kenapa Venezuela Kaya Minyak tapi Miskin? Ini Sejarah Panjang Kejatuhan Negeri Petrostate
- Anadolu
tvOnenews.com — Dunia internasional digemparkan oleh penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh rezim Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump.
Operasi militer yang dilakukan pada awal tahun 2026 itu disebut sebagai puncak tekanan politik dan ekonomi AS terhadap Venezuela, setelah Maduro lama dinyatakan sebagai pemimpin tidak sah dan buronan internasional.
Maduro ditangkap bersama istrinya Cilia Flores usai serangan militer Amerika Serikat.
- ANTARA
Pemerintah AS menuding Maduro terlibat dalam jaringan korupsi, perdagangan narkotika internasional, serta pelanggaran demokrasi berat. Bahkan, imbalan penangkapannya sempat dinaikkan hingga US$50 juta.
Penangkapan ini kembali membuka luka lama Venezuela, Bagaimana mungkin negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia justru runtuh secara ekonomi dan politik?
Venezuela, Negara Minyak yang Pernah Sangat Makmur
Venezuela pernah menyandang status sebagai negara terkaya di Amerika Selatan, bahkan berada di jajaran teratas Benua Amerika setelah Amerika Serikat dan Kanada.
Semua bermula sejak ditemukannya minyak di Cekungan Maracaibo pada 1922 oleh Royal Dutch Shell.
Pada akhir 1920-an, Venezuela menjadi produsen minyak terbesar kedua dunia, menghasilkan ratusan juta barel per tahun.
Pendapatan minyak mendorong pembangunan besar-besaran, menciptakan kesejahteraan, serta mengangkat jutaan rakyat dari kemiskinan.
Di era 1950–1970-an, Venezuela bahkan menjadi anggota pendiri OPEC, mengukuhkan diri sebagai negara petrostate, negara yang menggantungkan hidupnya pada ekspor minyak.
- antara
Ketergantungan Minyak Jadi Awal Petaka
Masalah muncul ketika Venezuela terlalu bergantung pada minyak dan mengabaikan sektor lain seperti pertanian, industri, dan manufaktur. Struktur ekonomi menjadi rapuh dan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global.
Selama harga minyak tinggi, ekonomi melesat. Namun ketika harga jatuh, Venezuela tidak memiliki penyangga ekonomi.
Krisis mulai muncul sejak Hugo Chávez berkuasa pada 1999. Dengan ideologi sosialisme populis, Chávez menerapkan subsidi BBM dan listrik ekstrem, nasionalisasi lebih dari 1.000 perusahaan dan bagi-bagi jabatan, serta pembatasan keuntungan swasta.
Load more