Krisis Minyak Global, Korea Selatan Terapkan Ganjil-Genap Kendaraan Pemerintah Mulai 8 April
- Dokumentasi BPMI Istana Negara
Estimasi dampaknya:
-
Pengurangan konsumsi minyak hingga 37,5 persen
-
Setara dengan penghematan sekitar 17.000 hingga 87.000 barel per bulan
Angka ini menjadi krusial di tengah tekanan pasokan minyak global yang semakin ketat.
Kebijakan Diperketat Seiring Naiknya Status Krisis Energi
Sebelum penerapan sistem ganjil-genap, pemerintah Korea Selatan sebenarnya telah lebih dulu memberlakukan pembatasan penggunaan kendaraan dinas.
Sejak 24 Maret 2026, kendaraan pemerintah dibagi menjadi lima kelompok berdasarkan angka terakhir pelat nomor, dengan larangan operasional pada hari kerja tertentu.
Namun, dengan meningkatnya tekanan krisis energi, kebijakan tersebut kini diperketat menjadi sistem ganjil-genap yang lebih luas.
Status Krisis Energi Naik ke Level 3
Pemerintah Korea Selatan resmi menaikkan tingkat kewaspadaan krisis keamanan pasokan minyak dari Level 2 menjadi Level 3 pada 2 April 2026.
Level ini merupakan tahap ketiga dari total empat tingkat krisis, yang menandakan kondisi pasokan energi berada dalam tekanan serius.
Kenaikan status ini menjadi dasar utama diberlakukannya kebijakan pembatasan kendaraan secara lebih ketat.
Dampak Konflik Timur Tengah Picu Krisis Minyak
Krisis bahan bakar yang dialami Korea Selatan tidak terlepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Serangan yang terjadi sejak akhir Februari memicu ketegangan besar dan berdampak langsung pada jalur distribusi energi global.
Salah satu dampak paling signifikan adalah terganggunya Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia.
Sekitar 70 persen impor minyak Korea Selatan bergantung pada jalur tersebut, sehingga gangguan distribusi langsung memengaruhi ketersediaan energi di dalam negeri.
Harga Minyak Global Naik, Pasokan Tertekan
Blokade de facto di Selat Hormuz menyebabkan terganggunya ekspor dan produksi minyak dari kawasan Teluk Persia. Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak dunia sekaligus memperketat pasokan.
Bagi Korea Selatan yang sangat bergantung pada impor energi, situasi ini menjadi ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi dan kebutuhan domestik. (ant/nsp)
Load more