Trump Kasih Sinyal Perang Belum Usai, Operasi Militer AS ke Iran Disebut Masih Berlanjut
- REUTERS/Kylie Cooper
Amerika Serikat, tvOnenews.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perhatian dunia internasional setelah memberi sinyal bahwa operasi militer terhadap Iran belum sepenuhnya berakhir.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut “penghancuran militer Iran” masih berlanjut. Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih memanas meski sebelumnya sempat diumumkan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
“Amerika Serikat telah menunjukkan kepada dunia selama 16 bulan luar biasa pemerintahan Trump, yang mencakup pasar saham dan dana pensiun 401K pada level tertinggi sepanjang masa, kemenangan militer dan hubungan yang berkembang di Venezuela, penghancuran militer Iran (bersambung!),” tulis Trump dalam unggahannya.
Pernyataan itu dinilai menjadi sinyal terbaru bahwa pemerintahan Trump masih membuka kemungkinan operasi militer lanjutan terhadap Iran.
Konflik AS-Iran Memanas sejak Februari 2026
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam setelah Washington bersama Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik berskala besar di kawasan Timur Tengah. Iran merespons dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah target serta melakukan pengetatan di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.
Pada 7 April 2026, Amerika Serikat dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata. Namun situasi tidak sepenuhnya mereda.
Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran menerapkan aturan transit khusus terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Bahkan dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah laporan menyebut gencatan senjata berada dalam kondisi rapuh dan berpotensi kembali pecah sewaktu-waktu.
Trump Disebut Pertimbangkan Operasi Baru
Laporan sejumlah media internasional menyebut pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan opsi operasi militer lanjutan setelah negosiasi dengan Iran mengalami kebuntuan.
Axios melaporkan Trump dan tim keamanan nasional AS sempat membahas kemungkinan melanjutkan tekanan militer terhadap Iran, termasuk operasi di kawasan Selat Hormuz.
Sementara itu, Panglima Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengklaim kemampuan militer Iran telah mengalami penurunan signifikan akibat operasi gabungan AS dan Israel.
Dalam keterangannya di hadapan Senat AS, Cooper menyebut kemampuan serangan Iran kini berada pada level “sangat moderat” dibanding sebelumnya.
Iran Peringatkan AS agar Tak Lakukan Serangan Lagi
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan agar tidak ada lagi serangan terhadap negaranya.
Teheran menilai langkah militer lanjutan tidak akan efektif dan hanya memperburuk situasi kawasan.
Iran juga terus mengecam blokade yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan dan jalur perdagangan mereka di kawasan Teluk.
Ketegangan antara kedua negara membuat situasi geopolitik Timur Tengah kembali menjadi sorotan global, terutama karena dampaknya terhadap keamanan energi dan distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Kongres AS Mulai Soroti Langkah Trump
Di dalam negeri, kebijakan Trump terkait Iran juga mulai menuai perdebatan politik.
Dewan Perwakilan Rakyat AS baru-baru ini gagal meloloskan resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.
Perdebatan tersebut muncul karena sebagian anggota parlemen menilai operasi militer berkepanjangan berpotensi menyeret Amerika Serikat ke konflik lebih luas di Timur Tengah.
Meski demikian, Gedung Putih tetap mempertahankan posisi bahwa langkah militer yang dilakukan masih berada dalam kewenangan presiden sebagai panglima tertinggi militer AS.
Load more