Kenapa Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Baru Digelar setelah Empat Bulan Meninggal?
- Istimewa via VIVA
tvOnenews.com – Prosesi pemakaman kenegaraan untuk melepas kepergian Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei dipastikan berlangsung di bawah pengawalan militer dan penjagaan yang super ketat.
Di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak, Iran secara selektif hanya mengizinkan delegasi negara tertentu untuk hadir, di mana Pemerintah Indonesia menjadi salah satu yang resmi mengirimkan perwakilannya.
Berdasarkan data yang dihimpun, Teheran mengambil sikap tegas dengan memboikot serta enggan memberikan undangan kepada negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) dan blok Barat.
- Julio Trisaputra/tvOnenews
Kementerian Luar Negeri Iran mengharamkan kehadiran negara yang dinilai mengambil posisi "tidak pantas" atau terkesan membela agresi militer AS dan Israel yang berujung pada gugurnya sang Ayatollah.
Tak hanya itu, Washington dilaporkan sempat melancarkan kampanye diplomatik bawah tanah untuk menekan sejumlah negara di Eropa Timur dan Asia Timur agar ikut memboikot acara tersebut.
Meski ditekan blok Barat, prosesi penghormatan terakhir yang berpusat di Teheran ini tetap diserbu oleh puluhan delegasi negara sahabat.
Terhitung ada lebih dari 90 negara yang hadir mengirimkan pejabat tingginya, termasuk perwakilan dari Rusia, Pakistan, China, hingga negara-negara Timur Tengah.
Dari puluhan delegasi tersebut, sosok Rolliansyah Soemirat hadir sebagai utusan resmi untuk mewakili Pemerintah Indonesia.
Rolliansyah Soemirat yang merupakan Duta Besar (Dubes) RI untuk Iran, ditunjuk secara khusus guna memberikan penghormatan terakhir dalam rangkaian prosesi pemakaman kenegaraan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang membenarkan bahwa Jakarta telah menerima undangan resmi dan sangat mengapresiasi ikatan diplomatik yang ditunjukkan oleh pihak Teheran.
Arak-arakan Akbar 6 Hari di Dua Negara, AS Dipaksa Menunggu
![]()
Jutaan warga Republik Islam dilaporkan telah membanjiri jalanan untuk mengantarkan mantan Pemimpin Tertinggi itu ke tempat peristirahatan terakhirnya yang dijadwalkan pada 9 Juli 2026 mendatang.
Ritual duka ini sekaligus dikemas sebagai panggung unjuk kekuatan regional bahwa rezim Iran sama sekali tidak runtuh pasca-serangan bom empat bulan lalu.
Jasad Ali Khamenei direncanakan akan menempuh rute arak-arakan suci selama enam hari melintasi enam titik bersejarah di dua negara, yakni Iran dan Irak.
Rute panjang tersebut dimulai dari Grand Mossala Teheran sebagai pusat kekuasaan, bergeser ke Qom sebagai jantung ulama Syiah, lalu menyeberang ke Irak menuju kota kemartiran Karbala serta kota suci Najaf.
Perjalanan spiritual ini nantinya akan berakhir di kota kelahiran Khamenei, Mashhad, untuk dimakamkan selamanya di dekat makam suci Imam Reza.
Jeda panjang selama empat bulan antara kematian dan pemakaman—yang sangat tidak lazim dalam tradisi Islam—menjadi bukti autentik betapa situasi di Iran sempat luar biasa genting akibat gempuran bom yang terus terjadi selama berminggu-minggu.
Namun, Teheran berhasil mengemas ulang narasi lewat lambang kepalan tangan berslogan "Kita harus bangkit" sebagai simbol persatuan nasional dan kompetensi birokrasi di bawah tekanan musuh.
Imbas dari megahnya prosesi berkabung ini, Amerika Serikat terpaksa harus menelan pil pahit. Washington yang sudah tidak sabar untuk menyudahi perang kini dipaksa gigit jari dan menunggu di luar pintu negosiasi.
Pembicaraan lanjutan dipastikan tertunda total dan baru akan digelar setelah seluruh rangkaian pemakaman tuntas pasca-9 Juli 2026.
Melalui mediator dari Qatar dan Pakistan, Iran juga menutup rapat ruang tawar dan tetap menolak keras untuk duduk satu meja secara langsung dengan utusan Gedung Putih.
- Antara
Tensi Memanas: Israel Tebar Ancaman Pembunuhan ke Pemimpin Baru
Di tengah situasi berkabung yang emosional, percikan perang baru justru kembali diletupkan oleh Israel.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz secara provokatif melontarkan ancaman pembunuhan terbuka yang membidik Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, sebagai target operasi militer selanjutnya.
Ancaman maut tersebut langsung direspons secara keras oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Araghchi langsung menagih komitmen kesepakatan internasional kepada Amerika Serikat agar mampu mengontrol tindakan liar sekutunya di Tel Aviv tersebut selama masa gencatan senjata berlangsung.
Melalui lautan manusia dan prosesi kolosal enam hari di dua negara ini, Iran sukses mengirimkan pesan berdarah dan terang-benderang ke Washington dan Tel Aviv: Kepala boleh saja tumbang, namun tubuh rezim tetap berdiri tegak, berduka, dan sama sekali tidak akan bertekuk luthut.
Load more