Trump Marah ke Zelensky Imbas Serangan Drone Terbesar di Rusia, Tuduh Ukraina Tak Mau Akhiri Perang
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Ukraina melakukan serangan udara besar-besaran di wilayah Rusia pada Sabtu (17/10/2026). Bahkan, Ukraina mengerahkan lebih dari 1.000 drone untuk membakar sejumlah fasilitas energi dan industri di Stasiun Petersburg, Rusia.
Serangan ribuan drone tersebut membuat satu orang tewas dan lima orang terluka. Gubernur St. Petersburg, Alexander Beglov mengungkapkan serangan itu menyasar terminal minyak Petersburg, depot minyak Ruchi, serta sejumlah gudang industri di distrik Kolpinsky bagian selatan kota, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Serangan besar-besaran Ukraina pun menuai reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Ia menunjukkan kemarahannya kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky karena telah menghantam salah satu minyak penting Rusia.
Diketahui, ketegangan antara AS dan Ukraina semakin meningkat baru-baru ini. Hal itu terjadi setelah Donald Trump mengeluarkan kebijakan pengecualian yang membebaskan Rusia dari sanksi ekonomi secara menyeluruh, sebagaimana amanat dalam Kongres AS.
Pengecualian tersebut tak lepas dari kesepakatan antara Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Hal ini bertujuan agar Rusia menjual bahan bakar diesel kepada AS.
Dalam wawancara di NBC News, Zelensky menyebutkan "kesalahan bersejarah" apabila AS berpihak pada Rusia. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyampaikan pernyataan bahwa AS tidak ingin melakukan apa pun dapat menjauhkan Rusia dari perundingan mengakhiri perang di Ukraina.
Menurut Trump, langkah itu sebagai "kemajuan besar sedang dicapai". Dalam kesempatan yang sama, ia menunjukkan amarahnya hingga mengecam keputusan Zelensky yang tidak ingin mengakhiri perang dengan Rusia.
"Zelensky menjadikan kilang diesel di Rusia sebagai target, dengan mengetahui bahwa serangan-serangan ini sangat merugikan pasar diesel dunia, termasuk pasar di Amerika Serikat," ujar Donald Trump.
"Zelensky tidak peduli. Terus terang, dengan semua uang yang terkenal diberikan Eropa kepadanya dan uang yang sebelumnya diberikan Joe Biden yang licik kepadanya, dia tidak ingin mengakhiri perang ini dan mungkin memang tidak pernah menginginkannya," sambungnya.
Walau begitu, Zelensky telah berbicara dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner pada Minggu. Hal ini bertujuan sebagai upaya "komunikasi tanpa henti untuk mencapai perdamaian.
"Kami melakukan segala upaya dari pihak kami untuk mewujudkan hal ini, serta memastikan posisi Amerika tetap kuat guna membantu mempercepat tercapainya perdamaian," tulis Zelensky melalui unggahan di X pribadinya dikutip, Selasa (20/10/2026).
(hap)
Load more