Daftar WNI yang Dikabarkan Menjadi Tentara Rusia, Dua Orang Disebut Tewas dalam Perang Lawan Ukraina
- antara
Jakarta, tvOnenews.com - Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) dikabarkan direkrut menjadi tentara bayaran Rusia. Keterlibatan mereka menjadi personel militer Rusia tidak lain untuk ikut serta dalam perang melawan Ukraina.
Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (Foreign Intelligence Service of Ukraine/FISU) menyebut perekrutan tersebut diduga dilakukan melalui tawaran pekerjaan dengan imbalan gaji besar serta janji penempatan di bagian non-tempur.
Kenyataannya, para warga asing yang direkrut, termasuk WNI berpotensi dikirim ke wilayah pertempuran meskipun belum mendapatkan pelatihan militer secara memadai.
Pada Agustus 2026, FISU mengungkap dokumen yang diklaim memperlihatkan sedikitnya delapan WNI telah direkrut untuk bergabung dengan militer Rusia.
Contoh yang nyata mengacu pada sosok Taufiq Muhammad yang menyusul nasib Rendi Apriyanto. Keduanya dikabarkan meninggal dunia setelah dikirim sebagai tentara Rusia untuk bertempur di medan perang melawan Ukraina.
1. Taufiq Muhammad WNI Asal Surabaya
Berdasarkan keterangan dari laman resmi Badan Intelijen Pertahanan Ukraina (Defence Intelligence of Ukraine/DIU) pada Senin (26/10/2026), Taufiq Muhammad merupakan WNI asal Surabaya yang dikabarkan bergabung ke militer Rusia.
Taufiq Muhammad lahir di Kota Sorong pada 22 Mei 1978. Pria berusia 48 tahun itu sebelumnya bekerja sebagai sopir taksi di Jakarta dan menjadi manajer di sebuah perusahaan pertanian.
Menariknya, Taufiq mempunyai riwayat pengalaman kerja di Amerika Serikat (AS). Kondisi inilah membuat dirinya dinilai fasih berbahasa Inggris.
DIU berpendapat Taufiq pergi ke Rusia karena tergiur dengan tawaran iming-iming berupa uang besar untuk suatu pekerjaan. Di balik itu, WNI asal Surabaya tersebut tampak tidak mengetahui dirinya menjadi korban penipuan agar difungsikan sebagai tentara bayaran di garda terdepan Rusia.
"Perekrut Rusia menemukan Taufiq melalui resume yang dia kirimkan sebagai tanggapan atas tawaran pekerjaan. Dia kemungkinan besar percaya pada janji 'uang mudah' dan pergi ke Moskow. Pada kenyataannya, dia menjadi korban lain dari skema penipuan Rusia untuk merekrut orang asing untuk perang kriminalnya," tulis DIU.
Pada 19 April 2026, perjalanan Taufiq sebagai tentara bayaran Rusia berlanjut. Ia melakukan penandatanganan kontrak dokumen militer berlangsung di Korolyov, kota di dekat Moskow.
Masa tugas Taufiq berlangsung selama satu tahun. Kesepakatan itu sesuai standar bagi warga negara asing yang direkrut oleh Rusia untuk menjadi infanteri "sekali pakai".
Sebagai tugasnya, Taufiq berperan menjadi penembak senapan mesin sehingga dikirim ke pusat pelatihan dekat Voronezh. Menariknya, ia hanya menjalani satu setengah minggu di sana.
Pada awal Mei, pria kelahiran asal Sorong itu dikerahkan ke wilayah Ukraina yang diduduki sementara. Setibanya di wilayah Donetsk, Taufiq justru dilaporkan meninggal dalam pertempuran pertamanya ketika pasukan Rusia maju dari sebuah permukiman ke beberapa desa di kawasan Donetsk.
2. Rendi Apriyanto WNI Asal Natuna Kepulauan Riau
Selain Taufiq, WNI bernama Rendi Apriyanto juga dilaporkan meninggal dunia setelah bergabung dengan pasukan Rusia. Ia dikabarkan tewas pada akhir September 2026.
Rendi merupakan pemuda asal Ranai Darat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Sebelum berangkat ke Rusia, ia pernah bekerja sebagai teknisi layanan telekomunikasi di kampung halamannya, kemudian bertugas di Batam dan merantau ke Filipina untuk bekerja di bidang instalasi listrik.
Ibu Rendi, Eniyanti mengatakan bahwa, putranya sudah cukup lama tidak kembali ke Natuna.
"Sejak 2022, Rendi memang tidak pernah pulang ke Natuna," ungkap Eniyanti.
Pada awal 2026, Rendi mengabarkan kepada keluarganya bahwa dirinya akan bekerja di kawasan Eropa Timur. Ia kemudian berangkat ke Rusia bersama tujuh rekan asal Indonesia untuk mendaftarkan diri sebagai personel militer.
Keluarga mengaku mengetahui proses tersebut dan telah menandatangani dokumen persetujuan yang diminta pihak penjamin di Rusia. Rendi disebut memperoleh tawaran kontrak senilai Rp600 juta untuk masa kerja enam bulan.
Ayahnya, Ruskamal mengatakan bahwa, Rendi sempat meyakinkan keluarga bahwa pekerjaannya tidak mengharuskannya terlibat langsung dalam pertempuran.
Akan tetapi, Rendi akhirnya mendapat penugasan di kawasan konflik. Pesan terakhir dari dirinya diterima keluarga pada pertengahan September 2026, sebelum ia diberangkatkan menuju zona pertempuran.
Kabar kematiannya kemudian disampaikan oleh salah seorang rekan yang berhasil selamat dari serangan tersebut.
"Kami mendapat kabar duka ini dari kawan Rendi. Ada delapan orang dari Filipina yang mendaftar sebagai tentara bayaran di Rusia secara bersamaan," kata Ruskamal.
3. WNI Lain yang Dilaporkan Gabung Militer Rusia
Nama lain yang turut dikaitkan dengan keterlibatan WNI dalam militer Rusia adalah Muhammad Rio. Ia diketahui merupakan mantan anggota Brigade Mobil (Brimob) Polda Aceh yang diduga bergabung dengan pasukan Rusia tanpa melaporkan keterlibatannya kepada perwakilan Indonesia.
Selain itu, terdapat Satria Arta Kumbara, mantan Sersan Dua/Serda dari Korps Marinir Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Ia juga diketahui bergabung dengan militer Rusia sebagai tentara bayaran.
Berdasarkan dari rilisan FISU pada 27 Agustus 2026 lalu, daftar delapan WNI lainnya yang diduga menjadi tentara bayaran di Rusia, antara lain Yuda Putra Pratama (lahir 9 Agustus 1997), Haryanto Dwi Kencana (lahir 14 Juli 1983), Erwanda (lahir 5 Agustus 1988), Ngangun Hudri Fadli (lahir 17 September 1978), Syaripudin Muhammad (lahir 3 Agustus 1994), Maulana M Hadi (lahir 7 April 1987), Iskandar Wahyu Oktavian (lahir 22 Oktober 1985), Helmi Nugraha Hakim (lahir 27 November 1983).
(hap)
Load more