Cuitan Ferdinand Hutahaean tentang Allah Viral, Bareskrim Polri Proses Laporan
- ANTARA
Video permintaan maaf Ferdinand dibuat di sebuah ruangan, dengan latar belakang hiasan dinding merah, Pancasila yang diapit foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin.
"Sahabat, selamat pagi saya ingin mengklarifikasi tentang riuhnya dan ramainya cuitan saya kemarin," ujar Ferdinand.
Video tersebut dia upload sekitar 20 jam setelah cuitannya yang viral.
"Memang setelah itu saya tidak bisa memantau media sosial karena ada kesibukan yang tidak bisa saya tinggal. Namun demikian, yang mau saya sampaikan kali ini adalah bahwa cuitan saya tersebut tidak sedang menyasar kelompok tertentu, kaum tertentu, orang tertentu, atau agama tertentu," katanya mencoba menjelaskan.
Dia kemudian menuturkan, bahwa cuitan buatannya adalah buah pemikirannya saat itu.
"Yang saya lakukan itu adalah dialog imajiner pikiran dan hati saya. Ketika saya down, tidak perlu saya bercerita di Twitter di media sosial bahwa saya sedang down. Tetapi saya melakukan dialog imajiner dengan hati saya, antara pikiran dan hati saya. Pikiran saya mengatakan. 'Hai Ferdinand kau akan habis, tidak ada yang bisa menjagamu, Allahmu lemah'. Tetapi kemudian hati saya berkata, 'Hei, kau, tidak! Allahku kuat, jadi jangan samakan Allahku dengan Allahmu, Allahku kuat. Ada yang akan menjagaku selalu.' Kira-kira seperti itu dialog imajiner antara pikiran dan hati saya," katanya berusaha mendeskripsikan.
Sebelumnya, Ferdinand pada Selasa (4/1/2022) membuat sebuah cuitan yang menarik perhatian netizen.
"Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, DIA lah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela," cuit Ferdinand kala itu.
Cuitan tersebut membuat ngamuk sebagian pihak. Dia pun menyadari hal itu dan menegaskan cuitannya tidak menyerang siapapun.
"Tapi kemudian orang merasa ada yang dituduh, merasa ada yang diserang, dan bahkan orang-orang tertentu yang selama ini selalu menggunakan kata tabayun-tabayun ternyata tidak tabayun, malah ikut-ikutan memelintir. Tidak apa-apa, sekali lagi saya tegaskan tidak ada niat saya untuk menyerang kelompok tertentu, agama tertentu, kaum tertentu, atau orang tertentu. Itu adalah dialog imajiner antara pikiran dan hati saya," tambah Ferdinand.
Load more