Ayah Bukan Eks Anggota TNI, Megawati Hangestri Anak Siapa Sih Sebenarnya?
- Red Sparks
Jakarta, tvOnenews.com – Megawati Hangestri Pertiwi kini menjadi salah satu atlet voli putri paling bersinar di Indonesia. Namanya dielu-elukan tidak hanya karena prestasi luar biasa di lapangan, tetapi juga karena kepribadiannya yang sederhana dan membumi. Di balik sorotan kamera dan gemerlap medali, sedikit yang tahu bahwa Megawati berasal dari keluarga yang sangat biasa.
Banyak publik yang mengira bahwa Megawati memiliki latar belakang militer karena sikapnya yang disiplin, tegas, dan kerap tampil tenang dalam tekanan. Namun asumsi itu ditepis langsung oleh Megawati dalam sebuah wawancara bersama Deddy Corbuzier.
Dengan senyum dan nada ringan, Megawati mengatakan bahwa ayahnya bukan anggota TNI seperti rumor yang beredar di media sosial.
“Enggak, ayah saya bukan TNI. Ayah kerja di PDAM,” ungkap Megawati dalam podcast tersebut.
Pernyataan itu seketika menjadi momen hangat dalam obrolan. Deddy bahkan sempat mengaku terkejut karena selama ini banyak yang menyangka Megawati dibesarkan di lingkungan militer. Padahal, masa kecilnya dihabiskan dalam kesederhanaan bersama keluarga yang jauh dari dunia olahraga profesional.
Didorong Sang Ayah, Enggan Berpindah Rumah Bersama Ibu
Kedekatan Megawati dengan sang ayah adalah salah satu penggerak utama dalam kariernya sebagai atlet. Meski bukan atlet, sang ayah-lah yang pertama kali mendorong Megawati untuk mencoba olahraga voli karena melihat postur tubuh anaknya yang tinggi sejak usia dini. Awalnya, Megawati lebih menyukai sepak bola dan mengaku cukup tomboy saat masih kecil. Namun dorongan sang ayah secara perlahan mengubah jalan hidupnya.
“Ayah yang bilang, ‘Kamu kan tinggi, coba main voli.’ Aku waktu itu nolak. Aku bilang, aku lebih suka sepak bola. Tapi akhirnya aku coba juga,” kenangnya.
Sosok ayah menjadi elemen penting yang membentuk karakter Megawati hari ini. Sayangnya, sang ayah meninggal dunia pada awal tahun 2023 akibat komplikasi stroke dan tumor paru-paru, tepat sebelum Megawati berangkat ke Korea Selatan untuk memperkuat klub Red Sparks. Ia menyimpan kesedihan mendalam karena sang ayah tidak sempat melihat langsung penampilannya di liga Korea, meski dukungan dan dorongan dari almarhum menjadi alasan utama ia menerima kontrak tersebut.
“Pas aku minta izin ke Korea, ayah belum sakit. Tapi gak lama, beliau kena stroke dan akhirnya meninggal. Aku yakin, walau gak lihat secara langsung, ayah tetap menyaksikan dari dunia lain,” ucapnya dengan suara pelan.
Sementara sang ibu, yang kini hidup sendiri di rumah keluarga mereka, menolak diajak pindah ke tempat yang lebih besar atau lebih nyaman meski Megawati sudah bisa memberikannya. Keengganan itu bukan karena tidak ingin, melainkan karena rasa keterikatan terhadap rumah yang penuh kenangan bersama almarhum suaminya.
“Aku sempat bilang ke mama, ayo pindah rumah yang lebih enak. Tapi mama gak mau. Dia bilang, ‘Ini rumah yang dibangun bareng ayah kamu. Aku nyaman di sini.’ Ya sudah, aku gak paksa,” tutur Megawati.
Pernyataan itu mencerminkan akar kehidupan Megawati yang sangat kuat pada nilai keluarga dan kesederhanaan. Meskipun kini ia berada di puncak karier, dengan gelar internasional dan popularitas yang terus meroket, ia tetap kembali ke rumah yang sama, ke lingkungan yang sama, dan ke kehidupan yang jauh dari kesan mewah.
Kesederhanaan yang Menguatkan
Megawati adalah gambaran atlet yang dibesarkan dalam nilai-nilai kedisiplinan bukan karena latar belakang militer, tetapi karena warisan moral dari keluarga sederhana. Dari ayahnya ia belajar berjuang, dari ibunya ia belajar ikhlas, dan dari rumah lamanya ia belajar bahwa tidak semua hal harus diganti hanya karena sudah mampu.
Di tengah sorotan publik yang semakin besar, Megawati tetap memilih pulang ke rumah yang sama, duduk bersama ibunya, dan mengingat ayah yang kini hanya bisa ia temui dalam doa. Mungkin di situlah letak kekuatan terbesarnya—akar yang dalam, dan hati yang tetap bersahaja. (nsp)
Load more