GULIR UNTUK LIHAT KONTEN
News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Malam Jahanam di Kebon Bawang

Kondisi rumah Ahmad Sahroni belum banyak berubah sejak dihancurkan massa yang marah pada kerusuhan akhir Agustus silam. Tak ada yang boleh masuk, kecuali segelintir orang yang diizinkan.
Senin, 3 November 2025 - 15:35 WIB
Potret serpihan kaca yang berserak di rumah Ahmad Sahroni seusai dijarah pada Agustus silam.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Julio Trisaputra

Jakarta, tvOnenews.com - Serbuk beling bekas pecahan jendela kaca dan dinding pecah berserakan di mana-mana. Seluruh isi rumah milik Anggota DPR RI nonaktif dari Fraksi NasDem, Ahmad Sahroni berhamburan. Tak ada yang berharga lagi kecuali menjadi puing-puing. Dinding-dinding masih dengan coretan kata-kata kotornya. Mobil Lexus RZ yang ditaksir seharga Rp2,2 miliar masih dibiarkan koyak menjadi rongsokan dan terparkir di serambi depan.

Dengan pagar masih tersegel garis polisi, kondisi hunian elit di perkampungan Jalan Swasembada Timur XXII, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu sebenarnya belum banyak berubah sejak dihancurkan gerombolan orang marah pada akhir Agustus silam. Tak ada yang boleh masuk, kecuali segelintir orang yang diizinkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tim tvOnenews.com yang berkesempatan untuk bersambang, pada Sabtu (18/10/2025), menyaksikan keadaan hancur itu yang seolah masih dibiarkan pemiliknya untuk menjadi saksi bisu yang menyisakan traumatik mendalam bagi orang-orang yang turut berada di dalamnya.

Tragedi kelam Rumah Sahroni bukanlah kejadian yang berdiri secara tunggal, melainkan buntut dari rentetan pemicu gelombang demo sepanjang Agustus kelam. 

Rakyat mungkin marah atas kontroversi sejumlah Anggota DPR. Mulai dari video viral para Legislator yang berjoget riang di sidang paripurna MPR pada 15 Agustus 2025, ketika pengesahan kenaikan tunjangan perumahan hingga Rp50 juta per bulan; disusul pernyataan Nafa Urbach yang disalah arti seolah meremehkan tunjangan itu sebagai "hanya kompensasi kontrak rumah" pada 22 Agustus; hingga ucapan Sahroni sendiri yang menyebut seruan pembubaran DPR sebagai "mental orang tolol sedunia".

Bara dalam sekam itulah yang kemudian benar-benar berkobar ketika tragedi tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan yang terlindas kendaraan taktis Brimob saat unjuk rasa di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Agustus 2025 malam. Jakarta semakin chaos setelahnya, demo terjadi di beberapa titik. Korban jatuh, aparat dan wakil rakyat jadi musuh, media sosial keruh menyerukan untuk merusuh.

Hingga akhirnya, entah angin apa yang menggiring sejumlah massa kemudian mendatangi rumah Ahmad Sahroni dan melakukan penjarahan pada Sabtu, 30 Agustus 2025 sore.

 Kebanyakan warga setempat mengaku tidak tahu menahu, dari mana gerombolan itu datang. Mereka berduyun-duyun dari berbagai arah, berteriak, mencaci, dan melempar batu, dan berusaha merobohkan pagar rumah mewah Sang Crazy Rich Tanjung Priok.

“Kami nggak paham mereka dari mana, kami cuma bisa menahan agar jangan sampai membakar. Karena ini perkampungan padat, mohon jangan dibakar, nanti semua warga kena,” kata seorang warga yang mengingat lagi kejadian waktu itu.

Gang di perkampungan padat penduduk tempat Sahroni dan keluarganya bermukim, seketika berubah menjadi medan ketegangan. Delapan orang termasuk Sahroni sendiri terperangkap di dalam rumah elit lantai empat yang siap menjadi sasaran penghancuran. Mereka semua memang selamat, tetapi nyaris saja menjadi korban kebengisan massa.

Seorang saksi, Imamuddin (46) yang berada di dalam rumah saat insiden itu terjadi, dengan napas terputus-putus menceritakan detik-detik mencekam, seolah trauma masih melekat di benaknya ketika menuturkan setiap detail kejadian.

“Batu? Tidak ada batu-batu sebesar itu di sekitar sini, tapi tiba-tiba hujan batu dan petasan air mancur. Kedatangan mereka seolah-olah seperti sudah direncanakan dan diatur,” tutur Imam yang juga Anggota Ahmad Sahroni Center mengenang kejadian miris itu.

Kondisi di dalam rumah Politikus Partai Nasdem, Ahmad Sahroni, setelah penjarahan yang terjadi pada 30 Agustus 2025, di Jalan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (18/10/2025).
Kondisi di dalam rumah Politikus Partai Nasdem, Ahmad Sahroni, setelah penjarahan yang terjadi pada 30 Agustus 2025, di Jalan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (18/10/2025).
Sumber :
  • tvOnenews.com/Julio Trisaputra

 

Antara Hidup atau Mati Diamuk Massa

Kala itu, Imam dan Istrinya bernama Dini (46) dan seorang rekan bernama Tabrani (46) memang berada di kediaman Sahroni. Bersama dua orang rekan lagi yang tak disebut namanya, mereka sedang melakukan rapat di ruang makan untuk membahas rencana pemberangkatan umrah gratis untuk sejumlah orang pada hari Senin nantinya.

Istri dan anak Sahroni memang sudah diungsikan ke tempat lain. Mereka tidak ada di sana lantaran isu mengenai ketegangan dan provokasi untuk menyerang rumah Anggota DPR sudah berhembus sejak tanggal 25 Agustus. Meski tak tahu kapan malapetaka itu datang, Sahroni tampaknya sadar bahwa ia harus mengamankan keluarga tercintanya guna berjaga-jaga. Hanya ada beberapa pengawal berbadan tegap yang berjaga di depan. Di dalamnya ada beberapa teman yang menemani dan dua orang pembantu.

"Awalnya, saya mendengar suara gaduh, tapi masih samar, seperti kerumunan yang jauh," ujar Imam dengan suara bergetar. Dari balik layar CCTV di ruang tengah, ia memantau situasi di portal depan rumah.
Di sampingnya, sebuah televisi yang menyala telah menyiarkan berita demonstrasi yang kian memanas. Sementara di luar, warga dan penjaga berusaha menghalau massa yang terus berdatangan, dan tentu saja mereka kalah banyak.

"Portal itu tiba-tiba jebol. Boom! Saya lihat dari CCTV, orang-orang mulai berlarian masuk. Ndan! Kondisi sudah tidak kondusif, kita harus menyelamatkan diri," kenangnya seraya menjelaskan bahwa ia akrab menyapa Sahroni sebagai ‘Ndan’ alias ‘Komandan’.

Batu-batu beterbangan, menghujani serambi dan garasi serta kaca jendela. Entah berapa lusin batu mendarat di dalam, diikuti petasan air mancur yang dilempar sembarangan, memercikkan cahaya oranye dan ledakan.

"Saya duduk di sini, di meja makan ini bersama tujuh orang lainnya," tutur Imam sambil menunjukkan ruang makan yang sudah hancur seperti ruang lainnya.

Anggota DPRD DKI Jakarta H Imamuddin yang menjadi saksi sekaligus teman dekat Ahmad Sahroni saat menjelaskan detik-detik penjarahan di rumah Sultan Priok.
Anggota DPRD DKI Jakarta H Imamuddin yang menjadi saksi sekaligus teman dekat Ahmad Sahroni saat menjelaskan detik-detik penjarahan di rumah Sultan Priok.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Julio Trisaputra

 

Imam menuturkan, di ruangan itu ada dua pekerja rumah tangga, seorang staf, adiknya, istrinya, seorang teman, dan dirinya sendiri. Total delapan orang, termasuk Sahroni, yang kala itu masih mencoba memastikan situasi. 

Tabrani dan seorang tamu berhasil keluar sebelum massa merangsek masuk. Namun yang lain tak sempat melarikan diri melalui pintu utama sehingga mereka panik tergesa menuju tangga darurat. Tangga darurat di ujung ruangan menjadi harapan terakhir, meski tak seorang pun tahu apakah itu cukup untuk menyelamatkan mereka.
“Saya itu mual kalau ingat ruangan-ruangan ini, pengen muntah terbayang kejadian menakutkan itu,” ujar Dini, istri Imam.

Tangga darurat itu berada di ruangan kecil berukuran satu meter, terjal melingkar ke atas hingga lantai empat. Nahasnya, Sahroni tertinggal dan memilih mengunci tangga penyelamat itu setelah orang-orang naik.
Imam dan enam orang lainnya berhasil sampai ke atap. Mereka kemudian melompat ke atap tetangga samping rumah dan memastikan diri selamat. Sayangnya, mereka tidak ada yang tahu bagaimana nasib Sang Anak Priok yang jadi incaran massa.

Berdasarkan pengakuan Tuan Rumah, Imam dan Dini bercerita bahwa Sahroni menyelamatkan diri lewat lift yang menuju ke kamarnya di lantai tiga. Lift tersebut kemudian diganjalnya supaya tidak bisa turun lagi untuk dinaiki penjarah.

Kemudian, Sahroni naik ke rooftop lantai empat dan bersembunyi di sebuah toilet sempit. Di sanalah pria berusia 48 tahun itu meringkuk di bawah wastafel dan terjebak selama berjam-jam saat massa riuh menjarah dan menghancurkan apa saja.

“Pak Sahroni sempat ingin naik melarikan diri dengan menjebol plafon toilet, tetapi tenaganya tidak sampai. Ia akhirnya memutuskan untuk meringkuk di sini, melumuri mukanya pakai debu, cemong untuk menyamarkan diri, cuma itu yang bisa dilakukan,” cerita Dini.

Ya, Sahroni disebut sempat melumuri mukanya dengan debu plafon yang dijebolnya. Ia berharap ketika ditemukan massa, tidak ada yang mengenalinya sebagai Tuan Rumah yang diburu semua orang.

Tetapi apes, Sahroni ternyata sempat ditemukan oleh tiga orang pelaku penjarahan. Mereka menengok ke bawah wastafel dan melihat seonggok manusia meringkuk dengan muka berdebu. “Ampun, Bang. Saya cuma pembantu di sini,” ujar Dini menceritakan ulang apa yang diungkap Sahroni.

Untungnya, tiga orang yang kalap untuk mencari harta berharga main percaya saja ida dan benar-benar tidak menyadari bahwa itu adalah Sahroni yang diburu semua orang. Sehingga, dengan ajaibnya Sahroni akhirnya selamat. Ya, Sahroni selamat.

“Sampai dengan pukul 9 malam, ketika massa itu sudah benar-benar redam. Kami masuk lagi untuk mencari Bapak! Dia tidak bisa dihubungi lagi, kami tidak tahu dia selamat atau mati,” ujar Imam saat membawa Tim tvOnenews ke atap tempat mereka menyelamatkan diri.

Beginilah kondisi kediaman Politikus Partai Nasdem, Ahmad Sahroni, usai penjarahan yang terjadi pada 30 Agustus 2025, di Jalan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (18/10/2025)
Beginilah kondisi kediaman Politikus Partai Nasdem, Ahmad Sahroni, usai penjarahan yang terjadi pada 30 Agustus 2025, di Jalan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (18/10/2025)
Sumber :
  • tvOnenews.com/Julio Trisaputra

 

Setelah menyisir setiap sudut rumah, tidak ada yang menemukan Sahroni di mana. Tidak ada yang tahu nasibnya. Usut punya usut, pentolan Komisi III DPR RI itu ternyata dengan nekat melompat sempat ke atap rumah tetangga belakang rumahnya. Ia melompati pagar besi yang tinggi, kemudian menjatuhkan diri. Sekali lagi, ajaibnya Sahroni selamat.

Pada akhirnya, seluruh barang berharga seperti jam tangan Richard Mille (Rp 11,7 miliar), banyak tas branded, patung Iron Man koleksi superhero senilai ratusan juta, surat tanah, ijazah, KK, hingga perabot rumah tangga; semuanya raib dan hancur. Massa merusak lima mobil mewah di garasi; dan meninggalkan coretan umpatan di tembok serta mengotori kolam renang indoor yang sempat viral menjadi pusat perhatian.

Sampai dengan Oktober 2025, khusus pada kasus perusakan brutal di rumah Sahroni, Polri telah menangkap 12 tersangka (termasuk penghasut live TikTok). Dengan kasus dilimpahkan ke Polda Metro Jaya; 32 barang dikembalikan sukarela tanpa hukum bagi pengembalian ikhlas.

Sahroni, sopir taksi yang menjadi "Crazy Rich Tanjung Priok" dengan kekayaan LHKPN Sahroni mencapai Rp328,91 miliar adalah salah satu pihak yang paling mendapatkan pelajaran tak terlupakan dalam keos Agustus 2025.
Jika rakyat marah karena menjadi korban ketimpangan sosial, atas semakin dalamnya jurang dengan para elit di saat ekonomi sulit, maka bolehkah Sahroni kemudian juga disebut sebagai korban efek berantai dari kondisi itu juga?

Masih ada tanda tanya yang mebayang-bayang soal provokator misterius yang membakar amarah barisan massa. Masih ada traumatis mendalam atas pertaruhan hidup dan mati, masih ada hoaks viral yang menyakitkan seperti dugaan dalam "flashdisk putih". Masih ada caci maki dan seluruh ‘penelanjangan’ yang memalukan di Istana Sultan Priok. Bagaimana pun, dia juga korban yang tak seharusnya diperlakukan demikian.

“Kami sedih, seharusnya ini tidak boleh terjadi. Penyerangan seperti ini dalam sejarah kita hanya terjadi di zaman PKI dan ‘98. Gerakan ini tetaplah janggal dan aneh. Tetapi Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi kami,” tutup Imamunddin menyayangkan apa yang menimpa Sahroni.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kini, pada Senin (3/11/2025), Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) melangsungkan sidang etik perdana untuk sejumlah nama anggota dewan nonaktif terkait kerusuhan di sejumlah kawasan di Indonesia pada 25-31 Agustus 2025.

Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, Eko Patrio, Uya Kuya, serta Adies Kadir nantinya juga akan dimintai kejelasan terkait rangkaian peristiwa yang terjadi sejak 15 Agustus hingga 3 September 2025. (rpi)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Cara Mudah Menghemat Air Setiap Hari, Bisa Dimulai Hari Ini!

Cara Mudah Menghemat Air Setiap Hari, Bisa Dimulai Hari Ini!

Banyak keluarga tidak sadar bahwa penggunaan air sehari-hari sebenarnya cukup boros. Dari kamar mandi hingga dapur, air yang terpakai bisa lebih banyak daripada yang dibutuhkan. 
Dua Alat Berat Dikerahkan untuk Buka Jalur Trenggalek–Ponorogo yang Tertutup Longsor Batu Raksasa

Dua Alat Berat Dikerahkan untuk Buka Jalur Trenggalek–Ponorogo yang Tertutup Longsor Batu Raksasa

Penanganan longsor yang menutup jalan di KM 16 jalur nasional Trenggalek–Ponorogo, di Dusun Pacar, Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, terus dilakukan tim gabungan.
Fitch Ratings Turunkan Outlook Utang RI Jadi Negatif, Airlangga: Dunia Sedang Bergejolak

Fitch Ratings Turunkan Outlook Utang RI Jadi Negatif, Airlangga: Dunia Sedang Bergejolak

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memicu
Travel Haji dan Umroh di Surabaya Pastikan Jamaah di Mekah dan Madinah Aman

Travel Haji dan Umroh di Surabaya Pastikan Jamaah di Mekah dan Madinah Aman

Travel haji dan umroh di Surabaya memastikan bahwa jamaah umroh di Mekah dan Madinah dalam kondisi baik-baik saja.
Keluarga Ermanto Usman Lapor ke LPSK, Rieke Diah Pitaloka Minta Dalang Pembunuhan Diungkap

Keluarga Ermanto Usman Lapor ke LPSK, Rieke Diah Pitaloka Minta Dalang Pembunuhan Diungkap

Keluarga Ermanto Usman, korban pembunuhan tragis di Bekasi, secara resmi mengajukan permohonan perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Imigrasi Belawan Deportasi Tiga WN Korea Selatan, Diduga Gunakan Izin Investor untuk Investasi Fiktif

Imigrasi Belawan Deportasi Tiga WN Korea Selatan, Diduga Gunakan Izin Investor untuk Investasi Fiktif

Ketiga WNA tersebut berinisial SK, GC, dan LNY. Mereka dideportasi pada Rabu (4/3/2026) melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Terminal 3, menggunakan penerbangan Asiana Airlines OZ762 menuju Korea Selatan.

Trending

Terpopuler: AFC Resmi Umumkan Hasil Sidang Komdis, Skenario Gila Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026 hingga John Herdman Full Senyum

Terpopuler: AFC Resmi Umumkan Hasil Sidang Komdis, Skenario Gila Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026 hingga John Herdman Full Senyum

Tiga berita sepak bola paling populer di tvOnenews.com: hasil sidang AFC soal Persib sudah keluar? skenario Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026, hingga kabar gembira untuk John Herdman.
Update Pemain Timnas Indonesia yang Dicoret John Herdman di FIFA Series 2026: 6 Nama Hampir Dipastikan, Satu Bintang Berpotensi Menyusul

Update Pemain Timnas Indonesia yang Dicoret John Herdman di FIFA Series 2026: 6 Nama Hampir Dipastikan, Satu Bintang Berpotensi Menyusul

Timnas Indonesia terancam kehilangan banyak pemain jelang FIFA Series 2026. Enam pemain sudah absen karena sanksi dan cedera, Mauro Zijlstra juga berpotensi menyusul.
Siapa Anis Syarifah? Istri Bos Rokok HS yang Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Moge dengan Yamaha Jupiter MX

Siapa Anis Syarifah? Istri Bos Rokok HS yang Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Moge dengan Yamaha Jupiter MX

Berikut profil mendiang Hj. Anis Syarifah, istri pengusaha rokok HS dan pendiri Surya Group yang meninggal dunia imbas kecelakaan di Kulon Progo, DI Yogyakarta.
John Herdman Pusing Tujuh Keliling Jelang FIFA Series 2026, Calon Duet Ole Romeny di Timnas Indonesia Berpotensi Dicoret Susul 6 Pemain Lain

John Herdman Pusing Tujuh Keliling Jelang FIFA Series 2026, Calon Duet Ole Romeny di Timnas Indonesia Berpotensi Dicoret Susul 6 Pemain Lain

Timnas Indonesia terancam pincang jelang FIFA Series 2026. 6 pemain sudah absen, kini Mauro Zijlstra juga cedera dan berpotensi absen dari skuad John Herdman.
Terpopuler News: Balasan Ketus Dwi Sasetyaningtyas untuk Purbaya, hingga Tangis Pengendara Jupiter MX Kecelakaan dengan Bos Rokok HS

Terpopuler News: Balasan Ketus Dwi Sasetyaningtyas untuk Purbaya, hingga Tangis Pengendara Jupiter MX Kecelakaan dengan Bos Rokok HS

Respons alumni LPDP, Dwi Sasetyaningtyas kepada Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Hingga, tangis pengendara Jupiter MX usai kecelakaan dengan bos rokok HS
Sesumbar Donald Trump Jika Dirinya Mati Kena Serangan Iran, Maka Ini yang Akan Dilakukan Amerika

Sesumbar Donald Trump Jika Dirinya Mati Kena Serangan Iran, Maka Ini yang Akan Dilakukan Amerika

Pernyataan lama Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi perbincangan hangat. Ucapan tersebut ramai dibahas ulang setelah serangan gabungan Amerika
Dulu jadi Idola, Eks Kiper Andalan Timnas ini sekarang Fokus Membangun Generasi sampai Bangun Sekolah

Dulu jadi Idola, Eks Kiper Andalan Timnas ini sekarang Fokus Membangun Generasi sampai Bangun Sekolah

Siapa sangka eks kiper timnas indonesia ini tengah fokus membangun generasi dengan membuka sekolah bola
Selengkapnya

Viral