Satu Siswa SMAN 72 Jakarta Masih Kritis, Jalani Operasi Emergency, Limpa Pecah akibat Ledakan Pertama
- tvOnenews.com/Syifa Aulia
Jakarta, tvOnenews.com - Direktur Medis Rumah Sakit (RS) Yarsi, Muhammadi, mengungkapkan pihaknya telah menerima 19 pasien korban ledakan di SMAN 72 Jakarta.
Dari total tersebut, tiga siswa hanya mengalami luka ringan dan tidak dirawat inap. Sementara, satu siswa masih dalam kondisi kritis sejak Jumat (7/11) hingga hari ini.
“Tadi saya melaporkan kepada Bapak Wakil Gubernur (Rano Karno) terkait dengan kondisi terakhir di Rumah Sakit Yarsi. Kita sudah melayani 19 pasien yang terkena korban dari ledakan di SMAN 72,” kata Muhammadi saat konferensi pers di RS Yarsi, Jakarta Timur, Minggu (9/11).
“Tiga itu dilakukan secara rawat jalan. 16 orang dilakukan rawat inap. Dari 16 ini yang memang ada satu yang kondisinya sejak awal masuk kritis, sejak hari pertama, dan itu kita rawat di ruang intensif,” lanjutnya.
Muhammadi menjelaskan, tim dokter telah melakukan operasi emergensi terhadap pasien kritis pada hari pertama kedatangan. Kemudian, pasien tersebut akan menjalani operasi kedua pada Senin (10/11).
“Jadi, kemarin kita operasi pertama itu operasi emergency, Pak Wagub. Pengangkatan limpa. Jadi, limpanya itu pecah waktu ledakan pertama,” ungkapnya.
“Dan ini yang kedua, kita akan membersihkan area luka bakar yang terkena pada korban. 30 persen (luka bakar),” sambung Muhammadi.
Sementara, 15 pasien lainnya akan menjalani pemeriksaan pendengaran untuk mengetahui tingkat ketulian akibat ledakan.
“Kalau istilahnya itu diagnosanya itu kan kehilangan pendengaran mendadak. Kita akan ukur dengan alat namanya audiometri. Itu sudah kita lakukan sejak kemarin bertahap,” jelasnya.
“Dan nanti akan kita tambahkan terapi berupa hiperbarik. Itu berupa terapi oksigen bertekanan tinggi yang tersedia di rumah sakit untuk mempercepat proses penyembuhan dari pasien-pasien yang mengalami pendengaran tuli mendadak, khususnya yang tidak rusak gendang telinganya,” pungkas dia. (saa/dpi)
Load more