Desakan Status Darurat Nasional Bencana Banjir-Longsor di Sumatera dan Aceh, Ini Jawab Prabowo
- Iggoy el Fitra-Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Bencana banjir bandang dan tanah longsor di tiga wilayah Indonesia yakni Sumatra Utara, Sumatera Barat, dan Aceh telah menelan ratusan korban jiwa.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 174 orang meninggal dunia 79 orang masih dinyatakan hilang terkait bencana banjir dan tanah longsor di tiga wilayah tersebut.
Menyikapi hal tersebut, desakan menetapkan status darurat nasional menggaung dari publik.
Kendati demikian Presiden RI, Prabowo Subianto masih mengkaji penetapan status darurat nasional terkait bencana banjir dan tanah longsor yang melanda tiga wilayah tersebut.
Prabowo menyatakan bahwa pemerintah masih terus memantau perkembangan bencana yang melanda sejumlah daerah, sebelum memutuskan langkah lebih lanjut terkait penetapan status darurat nasional.
Menurutnya fokus pemerintah saat ini adalah menyalurkan bantuan bagi wilayah-wilayah yang tengah dilanda bencana alam.
"Kita terus monitor, kita kirim bantuan terus. Nanti kita menilai kondisinya,” kata Prabowo kepada awak media, Jakarta, Jumat (28/11/2025).
Terkait kemungkinan penetapan status bencana, Prabowo menyatakan pemerintah masih melakukan pemantauan lapangan sebelum mengambil keputusan lanjutan.
“Nanti kita monitor terus,” ucapnya singkat.
Sebelumnya, dalam pidato pembukaan PTBI, Presiden Prabowo menyampaikan doa dan solidaritas bagi masyarakat yang tengah tertimpa musibah.
Ia menyatakan bahwa pemerintah bergerak cepat memberikan bantuan, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan di tengah perubahan iklim.
“Pemerintah terus menerus bekerja untuk menyampaikan bantuan segera ke daerah yang bersangkutan. Ini juga mengingatkan kita betapa kita harus waspada dan menjaga lingkungan kita,” kata Presiden.
Ia mengatakan, bahwa masalah lingkungan sangat penting dalam kondisi perubahan iklim yang tengah dihadapi planet Bumi sekarang.
Beberapa jam sebelum menghadiri agenda PTBI, Presiden Prabowo juga sempat menyinggung isu lingkungan dalam pidatonya pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2025 di GBK, Jakarta.
Di hadapan tenaga pendidik, Presiden menyebut bahwa tantangan terbesar dunia saat ini adalah perubahan iklim, pemanasan global, dan kerusakan lingkungan.
Ia mendorong agar pendidikan nasional memperkuat literasi lingkungan.
“Mungkin perlu kita tambah dalam silabus, dalam mata pelajaran, dan juga kesadaran akan sangat pentingnya menjaga lingkungan alam kita,” ujarnya.
Load more