News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Hari Ibu, Antara Perayaan Simbolik dan Kehidupan Anak yang Lebih Baik di Masa Datang

Ibu digambarkan sebagai sosok yang nyaris tanpa cela, selalu kuat, selalu sabar, selalu benar. Dalam narasi ini, keibuan menjadi simbol yang rapi dan menghangatkan.
Senin, 22 Desember 2025 - 05:45 WIB
Refleksi Hari Ibu adalah tentang memastikan masa depan yang lebih baik
Sumber :
  • ANTARA

Jakarta, tvOnenews.com - Ibu digambarkan sebagai sosok yang nyaris tanpa cela, selalu kuat, selalu sabar, selalu benar. Dalam narasi ini, keibuan menjadi simbol yang rapi dan menghangatkan. Narasi tersebut tentu lahir dari niat baik. Ia menjadi cara kolektif untuk menghormati peran yang sering luput dari pengakuan formal.

Hari Ibu hampir selalu hadir dalam wajah yang sama. Ucapan terima kasih mengalir, pengorbanan ibu dipuja, ketabahannya diangkat sebagai standar kebajikan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di banyak keluarga, ibu memang memikul beban ganda: mengasuh, mengelola rumah, menopang emosi keluarga, bahkan ikut menjaga stabilitas ekonomi. Perayaan Hari Ibu memberi ruang bagi rasa terima kasih yang kerap tertunda.

Namun, di situlah persoalannya. Ketika satu narasi diputar berulang, ia perlahan menjadi satu-satunya cerita yang dianggap sah.

Ibu tidak lagi diposisikan sebagai manusia dengan pengalaman beragam, melainkan sebagai figur ideal yang harus selalu dipuja. Segala yang tidak selaras dengan gambaran itu cenderung disisihkan, dianggap tidak pantas hadir di hari perayaan.

Dalam ruang publik, hampir tidak ada tempat bagi pembicaraan tentang ibu yang lelah, keliru, atau terjebak dalam cara-cara pengasuhan yang problematis.

Keibuan diperlakukan sebagai wilayah sakral yang tak boleh disentuh kritik, seolah mempertanyakan praktiknya sama dengan meniadakan jasa dan cinta itu sendiri.

Akibatnya, Hari Ibu kerap menjadi perayaan peran, bukan refleksi relasi. Yang dirayakan adalah fungsi sosial ibu, bukan dinamika nyata hubungan ibu dan anak yang sering kali kompleks.

Padahal relasi keluarga, seperti relasi manusia pada umumnya, tidak selalu berjalan mulus dan ideal.

Narasi yang terlalu tunggal ini tidak sepenuhnya salah, tetapi jelas tidak lengkap. Ia menenangkan, namun juga menyederhanakan.

Ia memuliakan, namun sekaligus membungkam sisi-sisi yang tidak sesuai dengan gambaran ideal.

Mungkin di sinilah Hari Ibu perlu diberi makna yang lebih luas. Bukan untuk mengurangi penghormatan, melainkan untuk memperkaya pemahaman.

Sebab penghargaan yang matang tidak hanya lahir dari pujian, tetapi juga dari keberanian melihat kenyataan apa adanya, dengan jujur dan berimbang.

Ada (juga) luka

Di balik narasi perayaan yang rapi, relasi ibu dan anak dalam kehidupan nyata sering kali jauh lebih rumit. Tidak semua hubungan dibangun di atas kehangatan dan rasa aman.

Dalam sejumlah kasus, relasi tersebut justru diwarnai ketegangan yang berlangsung lama dan kerap tak terucapkan.

Salah satu pola yang muncul adalah penggunaan relasi kuasa dalam pengasuhan, bahkan ketika anak telah memasuki usia dewasa.

Atas nama pengalaman, pengorbanan, atau kasih sayang, sebagian ibu tetap merasa berhak mengatur pilihan hidup anak, dari urusan karier hingga relasi personal.

Kontrol ini sering tidak dikenali sebagai masalah, karena dibungkus dalam bahasa kepedulian.

Dalam konteks masyarakat religius, tekanan tersebut kadang diperkuat oleh istilah moral dan spiritual.

Ancaman “durhaka” menjadi batas yang membuat anak sulit bersuara. Kepatuhan lahir bukan dari kedekatan emosional, melainkan dari rasa takut melanggar norma dan nilai yang dianggap sakral.

Hubungan pun berjalan timpang: hormat terjaga, tetapi keintiman menghilang.

John Bowlby dan Mary Ainsworth, dua psikolog yang mengembangkan Teori Kelekatan mengungkapkan bahwa relasi yang dibangun di atas rasa takut dan kontrol cenderung melahirkan kepatuhan semu, bukan kelekatan emosional yang sehat.

Dominasi juga tidak selalu memerlukan kuasa nyata. Dalam banyak relasi, kendali dipertahankan melalui emosi: mudah tersinggung, menyimpan marah, atau memosisikan diri sebagai pihak yang selalu terluka.

Perbedaan pendapat dibaca sebagai pembangkangan, sementara dialog kerap berhenti, sebelum benar-benar dimulai.

Kesenjangan pengalaman antargenerasi turut memperumit situasi. Banyak ibu dibesarkan dalam lingkungan dengan pilihan hidup terbatas dan minim ruang dialog emosional.

Ketahanan lebih dihargai daripada keterbukaan perasaan. Pola ini kemudian terbawa ke praktik pengasuhan, tanpa selalu disadari dampaknya bagi anak.

Penting dicatat, kekerasan dalam relasi keluarga tidak selalu berwujud fisik atau verbal yang kasar. Ia bisa hadir dalam bentuk simbolik dan emosional, rapi, berulang, dan sulit dikenali.

Tak sedikit anak baru memahami bahwa relasinya tidak sehat setelah dewasa, ketika bahasa untuk mengenali luka akhirnya tersedia.

Mengakui kenyataan ini bukan berarti meniadakan cinta dan pengorbanan ibu. Namun memahami konteks juga tidak serta-merta menghapus dampak.

Relasi yang melukai tetap meninggalkan jejak, meskipun lahir dari niat yang dianggap baik.

Memutus siklus

Di titik inilah Hari Ibu dapat diberi makna yang lebih luas. Bukan semata sebagai perayaan peran, melainkan sebagai ruang refleksi bersama tentang relasi dan tanggung jawab lintas generasi.

Penghormatan terhadap ibu tidak harus berhenti pada puja-puji, tetapi dapat berkembang menjadi upaya sadar untuk membangun hubungan yang lebih sehat.

Mengakui bahwa sebagian relasi ibu dan anak menyisakan luka bukanlah bentuk pembangkangan moral.

Sebaliknya, pengakuan tersebut menjadi langkah awal untuk memahami bahwa cinta tidak selalu hadir dalam praktik yang tepat.

Niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik, terutama ketika kuasa, ketakutan, dan komunikasi yang timpang dibiarkan berlangsung tanpa koreksi.

Bagi generasi yang hari ini menjadi orang tua, atau sedang menuju ke sana, refleksi ini menjadi penting.

Pertanyaannya bukan lagi siapa ibu yang paling berkorban, melainkan bagaimana keibuan dijalankan dalam keseharian.

Apakah anak diberi ruang untuk bertumbuh sebagai individu yang utuh, atau justru dipelihara dalam kepatuhan yang sunyi.

Pendekatan pengasuhan reflektif menekankan pentingnya kesadaran diri orang tua terhadap luka dan pola relasinya sendiri, agar tidak diwariskan secara otomatis kepada anak.

Memutus siklus tidak berarti memutus hubungan. Ia berarti mengganti cara. Mengganti ancaman dengan dialog, kontrol dengan kepercayaan, serta tuntutan moral dengan kehadiran emosional.

Ia juga berarti berani menyadari bahwa kehilangan kendali bukan kehilangan cinta. Anak yang dewasa tidak sedang meninggalkan orang tuanya, melainkan sedang menjalani hidupnya sendiri.

Hari Ibu dapat menjadi momentum untuk menggeser cara pandang tersebut. Bukan hari untuk menutup mata dari kenyataan yang tidak nyaman, melainkan kesempatan untuk memperluas pemahaman tentang kasih yang lebih adil.

Kasih yang tidak menuntut, tidak melukai, dan tidak menjadikan pengorbanan sebagai alat kendali.

Generasi yang sadar akan lukanya memiliki tanggung jawab etis untuk tidak mewariskannya. Kesadaran ini tidak selalu mudah, karena ia menuntut keberanian untuk belajar, mengoreksi diri, dan pada saat tertentu, meminta maaf.

Namun di situlah letak keibuan yang bijaksana dalam praktik, bukan sekadar dalam citra.

Dengan cara itu, Hari Ibu tidak lagi berhenti sebagai perayaan simbolik. Ia menjadi penanda proses panjang menuju relasi yang lebih sehat, setara, dan manusiawi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebab menghormati ibu pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.(ant)

 

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Masih Ingat Lee So-young? Sahabat Megawati Hangestri yang Sempat Mundur dari Liga Voli Korea Meski Digaji Rp14 Miliar Kini Siap Comeback

Masih Ingat Lee So-young? Sahabat Megawati Hangestri yang Sempat Mundur dari Liga Voli Korea Meski Digaji Rp14 Miliar Kini Siap Comeback

Lee So-young dan Megawati Hangestri sempat bekerja sama dengan membela Red Sparks di Liga Voli Korea 2023-2024.
Nadiem Makarim dan Kuasa Hukum Soroti Fakta Persidangan yang Diabaikan dan Dugaan Kriminalisasi

Nadiem Makarim dan Kuasa Hukum Soroti Fakta Persidangan yang Diabaikan dan Dugaan Kriminalisasi

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan putusan terhadap Nadiem Makarim terkait perkara Chromebook pada sidang yang digelar Selasa (30/6). 
HUT Bhayangkara ke-80 Digelar di Satlat Brimob Cikeas, Polri Ungkap Alasannya

HUT Bhayangkara ke-80 Digelar di Satlat Brimob Cikeas, Polri Ungkap Alasannya

Polri mengungkap alasan pelaksanaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, digelar di Satlat Brimob Polri, Cikeas, Bogor, pada Rabu (1/7/2026). Diketahui pada tahun 2025 lalu, dilaksanakan di Monas, Jakarta Pusat.
5 Zodiak Paling Beruntung soal Cinta di Awal Juli 2026: Libra Hubungan Makin Harmonis, Taurus Bertemu Jodoh

5 Zodiak Paling Beruntung soal Cinta di Awal Juli 2026: Libra Hubungan Makin Harmonis, Taurus Bertemu Jodoh

Memasuki awal Juli 2026, energi astrologi diprediksi membawa perubahan positif dalam kehidupan asmara bagi sejumlah zodiak. Siapa saja yang makin harmonis?
Industri Maritim Nasional Dinilai Belum Maksimal Serap Produk Komponen Lokal

Industri Maritim Nasional Dinilai Belum Maksimal Serap Produk Komponen Lokal

Industri komponen kapal nasional dinilai masih menghadapi tantangan besar untuk bisa bersaing di tengah tingginya kebutuhan sektor maritim dalam negeri.
Miroslav Koubek Masuk Dalam Daftar Pelatih yang Pamit Skuad Tim Nasional Usai Gagal di Piala Dunia 2026

Miroslav Koubek Masuk Dalam Daftar Pelatih yang Pamit Skuad Tim Nasional Usai Gagal di Piala Dunia 2026

Republik Ceko mengkonfirmasi kepergian sang pelatih setelah kedua belah pihak sepakat untuk memutus kontrak usai kegagalan tim di Piala Dunia. 

Trending

Masih Ingat Lee So-young? Sahabat Megawati Hangestri yang Sempat Mundur dari Liga Voli Korea Meski Digaji Rp14 Miliar Kini Siap Comeback

Masih Ingat Lee So-young? Sahabat Megawati Hangestri yang Sempat Mundur dari Liga Voli Korea Meski Digaji Rp14 Miliar Kini Siap Comeback

Lee So-young dan Megawati Hangestri sempat bekerja sama dengan membela Red Sparks di Liga Voli Korea 2023-2024.
Nadiem Makarim dan Kuasa Hukum Soroti Fakta Persidangan yang Diabaikan dan Dugaan Kriminalisasi

Nadiem Makarim dan Kuasa Hukum Soroti Fakta Persidangan yang Diabaikan dan Dugaan Kriminalisasi

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan putusan terhadap Nadiem Makarim terkait perkara Chromebook pada sidang yang digelar Selasa (30/6). 
HUT Bhayangkara ke-80 Digelar di Satlat Brimob Cikeas, Polri Ungkap Alasannya

HUT Bhayangkara ke-80 Digelar di Satlat Brimob Cikeas, Polri Ungkap Alasannya

Polri mengungkap alasan pelaksanaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, digelar di Satlat Brimob Polri, Cikeas, Bogor, pada Rabu (1/7/2026). Diketahui pada tahun 2025 lalu, dilaksanakan di Monas, Jakarta Pusat.
Farhan Halim Jadi Rebutan Volimania Korea Usai Bawa Timnas Voli Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026, Minta Abroad di V-League

Farhan Halim Jadi Rebutan Volimania Korea Usai Bawa Timnas Voli Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026, Minta Abroad di V-League

Farhan Halim mendadak menjadi perbincangan hangat volimania Korea Selatan usai tampil gemilang membawa Timnas Voli Indonesia juara AVC Men's Cup 2026.
Pensiunan Kemlu Tuntut Hak Pembayaran Gaji Pokok, Mahkamah Konstitusi: Pemerintah Harus Bantu

Pensiunan Kemlu Tuntut Hak Pembayaran Gaji Pokok, Mahkamah Konstitusi: Pemerintah Harus Bantu

Mahkamah Konstitusi menggelar Pengucapan Putusan Nomor 177/PUU-XXIV/2026 tentang Pengujian Pasal 40 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
Boy Arnez Singgung Reidel Toiran, Sebut Kunci Jadi MVP di AVC Men's Cup 2026

Boy Arnez Singgung Reidel Toiran, Sebut Kunci Jadi MVP di AVC Men's Cup 2026

Outside Hitter Timnas Voli Indonesia, Boy Arnez Arabi menyebutkan bahwa Reidel Toiran menjadi salah satu kunci dirinya bisa menjadi MVP di AVC Men's Cup 2026.
Daftar Peserta AVC Men's Volleyball Continental Championship 2026: Timnas Voli Indonesia Gagal Lolos

Daftar Peserta AVC Men's Volleyball Continental Championship 2026: Timnas Voli Indonesia Gagal Lolos

Timnas Voli Indonesia tak masuk dalam daftar peserta AVC Men's Volleyball Continental Championship 2026. Pasalnya, skuad Garuda tak lolos ke ajang bergengsi ini meski baru saja meraih gelar juara AVC Men's Cup 2026.
Selengkapnya

Viral