Menlu Sugiono Ingatkan ASEAN Tetap Jadi Ruang Damai, Bukan Arena Unjuk Kekuatan
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyerukan agar ASEAN kembali pada mandat dasarnya di tengah rivalitas kekuatan besar yang kian menajam.
Ia menegaskan Asia Tenggara tidak boleh berubah menjadi arena benturan geopolitik melainkan tetap menjadi ruang damai dan sejahtera.
“ASEAN dibentuk untuk memastikan perbedaan dikelola melalui dialog dan kerja sama, bukan melalui tekanan atau konfrontasi,” kata Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 Gedung Pancasila, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2025).
Menurut Sugiono, relevansi ASEAN justru semakin krusial ketika dunia memasuki periode kompetisi geopolitik yang semakin tidak menentu.
Dalam konteks tersebut, ASEAN disebut sebagai jangkar stabilitas kawasan sekaligus platform yang menjaga Asia Tenggara dari politik unjuk kekuatan.
Menlu menekankan bahwa kekuatan ASEAN bukan hanya ditentukan oleh ukuran ekonomi atau militer anggotanya, tetapi juga oleh persatuan dan sentralitasnya.
“ASEAN hanya akan kuat apabila persatuan dan sentralitas ASEAN terus dijaga dan diperjuangkan bersama,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Menlu turut mengutip pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyiratkan urgensi persatuan kawasan.
“In the current situation of geopolitical uncertainty, the stronger ASEAN is, the more we will be heard,” demikian pernyataan Sugiono.
Sugiono mengingatkan bahwa sepanjang tahun lalu ASEAN berhadapan dengan sejumlah krisis internal yang menjadi pengingat bahwa perdamaian regional tidak bisa dianggap otomatis.
Ia menilai perdamaian harus dirawat melalui penghormatan kedaulatan, penahanan diri, dan penyelesaian sengketa secara damai.
Momentum 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) tahun ini menjadi sorotan.
Indonesia menyampaikan keprihatinan karena prinsip-prinsip dalam TAC justru mengalami pelemahan pada saat norma dan aturan main regional sangat dibutuhkan untuk mencegah eskalasi.
Sugiono menilai TAC merupakan pondasi perilaku antarnegara di Asia Tenggara, sehingga penguatannya diperlukan untuk menjaga stabilitas, mencegah fragmentasi, dan memperkuat kepercayaan strategis di kawasan.
Ia menyebut pelemahan norma hanya akan membuka ruang bagi logika hard power menguasai.
“Di luar kawasan, logika hard power semakin menguat,” ujar Sugiono.
Namun, ia memastikan bahwa Asia Tenggara memiliki arsitektur regional dan aturan main yang harus dipatuhi mulai dari non-intervensi hingga penghormatan integritas teritorial termasuk penguatan sentralitas ASEAN.
Menlu menyatakan Indonesia siap bersinergi dengan Keketuaan Filipina dalam menjaga kesinambungan agenda kawasan termasuk mendorong penyelesaian Code of Conduct (CoC) Laut China Selatan yang sejalan dengan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). (agr/nsi)
Load more