Prabowo Minta Maaf pada PM Australia Albanese Karena Tak Sambut di Bandara: Saya Ada Rapat di Istana
- YouTube/Setpres
Jakarta, tvOnenews.com — Presiden RI, Prabowo Subianto, menerima kunjungan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Pertemuan bilateral itu dibuka dengan permohonan maaf Prabowo lantaran tidak dapat menyambut langsung kedatangan Albanese di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma.
“Saya mohon maaf tidak bisa menyambut Anda di bandara, karena ada rapat di Istana,” ujar Prabowo saat membuka pertemuan.
Albanese menanggapi santai permohonan maaf tersebut. Ia menyatakan tidak mempermasalahkan absennya Prabowo di bandara dan justru menyampaikan kegembiraannya dapat kembali bertemu langsung dengan Presiden Indonesia.
“Tidak apa-apa, Bapak Presiden. Senang sekali kita bertemu,” kata Albanese.
Dalam pertemuan itu, Albanese menekankan arti penting kunjungannya ke Indonesia. Ia menyebut Indonesia sebagai mitra strategis yang memiliki posisi khusus dalam kebijakan luar negeri Australia.
Albanese bahkan menyoroti intensitas kunjungannya ke Tanah Air sejak menjabat sebagai perdana menteri.
“Ini adalah kunjungan kelima saya ke Indonesia sebagai Perdana Menteri, dan saya sudah pernah ke sini jauh lebih sering dari itu sebelumnya, tetapi lima kali dalam kurang dari empat tahun dan itu menunjukkan betapa eratnya hubungan kita,” ucap Albanese.
Usai sesi pembukaan, Prabowo dan Albanese melanjutkan agenda dengan pertemuan tertutup. Setelah itu, dijadwalkan penandatanganan sejumlah kerja sama antara Indonesia dan Australia.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah belum mengungkap secara rinci sektor kerja sama yang akan disepakati dalam pertemuan tersebut.
Sebelumnya, berdasarkan data Departemen of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Pemerintah Australia menunjukkan relasi kedua negara terus menguat dalam beberapa tahun terakhir. Penguatan itu tercermin dari meningkatnya arus pelajar, ekspansi kerja sama perguruan tinggi, hingga lonjakan signifikan nilai perdagangan dan investasi.
Sektor pendidikan tetap menjadi jangkar utama hubungan RI–Australia. Pada 2025, sekitar 24.000 mahasiswa Indonesia tercatat menempuh pendidikan di Australia.
Secara kumulatif, lebih dari 200.000 warga Indonesia pernah mengenyam pendidikan di Negeri Kanguru, menjadikan Indonesia salah satu penyumbang mahasiswa internasional terbesar bagi Australia.
Pemerintah Australia setiap tahun menyediakan sekitar 220 beasiswa dan program jangka pendek melalui skema Australia Awards Indonesia. (agr)
Load more