Menilik Kepingan Surga Indonesia di Pusat Adat Simardangiang: Mengolah 'Emas Hitam' Jadi Aroma Berkelas Dunia
- tvOnenews
Sisi lain yang menarik dari Pusat Adat ini adalah fungsinya sebagai ruang pemulihan sosial. Plt. Ketua MHA Simardangiang, yang juga Kepala Desa Simardangiang, Tampan Sitompul, menuturkan sebuah kenyataan pahit: sekitar 80 persen lahan persawahan masyarakat rusak akibat bencana alam pada akhir 2025 lalu.
“Kami berharap pusat adat yang telah dibangun dapat menjadi ruang pelestarian nilai-nilai adat bagi generasi penerus,” ucapnya.
Dalam kondisi terjepit secara ekonomi, masyarakat kembali menoleh ke hutan adat. Pusat adat ini pun menjadi tempat mereka merumuskan strategi bertahan hidup. Kemenyan, yang dulu mungkin dianggap sebagai penghasilan sampingan, kini menjadi pilar utama ekonomi warga.
Bangunan ini menjadi saksi bisu bagaimana adat menyelamatkan perut rakyat di saat alam sedang tidak bersahabat.
Simbol Hubungan Tak Terpisahkan: Adat dan Hutan
Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, mengingatkan bahwa Pusat Adat Simardangiang adalah representasi fisik dari perjalanan panjang para leluhur dalam menjaga ruang hidup.
"Adat dan hutan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Bangunan ini menjadi pengingat bahwa jika kita menjaga hutan, maka adat akan tetap tegak, dan kesejahteraan akan mengikuti," ujar Panut.
Komitmen ini diperkuat dengan gerakan "Satu Orang Satu Pohon Kemenyan" yang dicanangkan Bupati sebagai bentuk penghijauan sekaligus investasi masa depan.
Kini, Simardangiang tidak hanya menjadi sebuah desa di Pahae Julu, tetapi telah bertransformasi menjadi laboratorium nasional bagi penguatan masyarakat adat berbasis ekonomi hijau.
Sebuah pesan kuat bagi Indonesia: bahwa kemajuan zaman tidak harus mengorbankan akar budaya dan kelestarian alam. (aag)
Load more