Peneliti BRIN Prediksi Awal Ramadhan 2026 Berpotensi Jatuh 19 Februari, Ini Penjelasan Ilmiahnya
- Istimewa
Kondisi ini menyebabkan kriteria imkanur rukyat belum terpenuhi di Indonesia maupun sebagian besar Asia Tenggara.
“Hilal lokal merujuk pada wilayah Indonesia dan sekitarnya. Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal belum memenuhi kriteria, bahkan masih berada di bawah ufuk,” katanya.
Dengan situasi tersebut, secara ilmiah awal Ramadhan berpotensi dimulai lusa atau 19 Februari 2026 jika menggunakan dasar rukyat regional.
Faktor Astronomis yang Mempengaruhi
Perbedaan ini terjadi karena posisi bulan terhadap matahari dan bumi tidak seragam di seluruh dunia. Waktu terjadinya ijtimak (konjungsi) serta sudut elongasi bulan menghasilkan kondisi visibilitas yang berbeda-beda di tiap lokasi.
Dalam astronomi, visibilitas hilal sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter, antara lain:
-
Ketinggian bulan di atas ufuk saat matahari terbenam
-
Jarak sudut bulan–matahari (elongasi)
-
Umur bulan setelah konjungsi
-
Kondisi atmosfer dan lokasi pengamatan
Karena bumi berbentuk bulat dan memiliki zona waktu berbeda, ada wilayah yang sudah memenuhi syarat terlihatnya hilal, sementara wilayah lain belum mengalaminya.
Fenomena inilah yang menjadi dasar munculnya dua pendekatan kalender Islam: global dan lokal.
Bukan Konflik Metode, Melainkan Sistem Acuan
Thomas menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu melihat perbedaan ini sebagai pertentangan antara ilmu pengetahuan dan syariat, maupun konflik antara hisab dan rukyat.
Menurutnya, keduanya tetap menggunakan dasar astronomi yang sama, hanya saja berbeda dalam menetapkan batas wilayah keberlakuan hasil pengamatan.
Pendekatan global bertujuan menciptakan satu kalender Islam internasional, sedangkan pendekatan lokal mempertimbangkan aspek geografis dan otoritas masing-masing negara.
“Ini bukan soal benar atau salah, tetapi soal sistem yang digunakan,” tegasnya.
Pemerintah Tetap Menunggu Sidang Isbat
Di Indonesia, keputusan resmi awal Ramadhan tetap akan ditetapkan pemerintah melalui sidang isbat yang memadukan hasil hisab dan rukyatul hilal.
Sidang tersebut melibatkan ulama, pakar astronomi, organisasi masyarakat Islam, serta lembaga terkait untuk memastikan keputusan yang diambil memiliki dasar ilmiah sekaligus legitimasi keagamaan.
Dengan mekanisme itu, hasil pengamatan di Indonesia menjadi faktor utama dalam menentukan kapan umat Islam memulai ibadah puasa.
Load more