Ketua BEM UGM Diteror Usai Kritik Kasus Anak Akhiri Hidup di NTT, Istana Singgung Soal Adab Ketimuran
- Rika Pangesti/tvOnenews
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengaku mendapat teror usai ia melontarkan kritik terkait kasus anak berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ancaman disebut tak hanya menyasar dirinya, tetapi juga keluarganya.
Menanggapi hal itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi mengaku belum mengetahui siapa pihak yang melakukan teror.
“Kalau teror kita enggak tahu siapa yang menteror, ya,” ujar Prasetyo di Gedung Nusantara IV DPR RI, Rabu (18/2/2026).
Prasetyo menegaskan bahwa menyampaikan kritik merupakan hak setiap warga negara. Bahkan, ia menyebut dirinya juga pernah aktif di organisasi mahasiswa.
“Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu saya kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja, gitu,” katanya.
Namun, Prasetyo mengingatkan agar kritik disampaikan dengan etika.
"Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya, ya, untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adab-adab ketimuran gitu lho,” ujarnya.
Ia juga membenarkan bahwa sebagai warga negara Indonesia, ada jaminan kebebasan berpendapat yang dilindungi konstitusi.
“Iya, iya kan itu kan konstitusi kan. Ya menjaminnya kan kebebasan berpendapatnya, ya," ujarnya.
Meski begitu, soal sikap tegas negara terhadap aksi teror, Pras hanya menjawab singkat.
“Nanti kita cek lah,” ucapnya.
Perlu diketahui, Ketua BEM UGM Yogyakarta, Tiyo Ardianto mendapatkan teror setelah memprotes pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang gagal menjamin hak dasar anak karena tragedi seorang anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur.
Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor dengan kode Inggris empat hari setelah BEM mengkritik Prabowo.
Selain ancaman penculikan, peneror juga mengirimkan pesan yang menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.
“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” bunyi pesan tersebut.
Berlanjut, teror yang menimpa Tiyo Ardianto merembet ke orang tuanya. Tiyo menuturkan, teror terhadap ibundanya terjadi pada Sabtu malam, 14 Februari.
Tiba-tiba pesan melalui WhatsApp masuk nomor ibunya. Pesan itu berisi narasi tuduhan Tiyo menggelapkan dana kampus.
"Hobi nilep dana kampus ternyata, pantesan aktif banget, biar dapat setoran," begitu bunyi pesan peneror yang dibacakan Tiyo. (rpi/iwh)
Load more