Viral Paspor Anak Awardee LPDP Berujung Permintaan Maaf, Akui Salah Ucap dan Picu Kegaduhan Publik
- Istimewa
Menanggapi polemik yang terjadi, Dwi Sasetyaningtyas akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat.
Ia menyatakan bahwa kalimat yang diucapkannya lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi sebagai warga negara terhadap berbagai kondisi yang dirasakannya. Namun, ia mengakui bahwa emosi tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai banyak pihak.
Ia juga menyadari bahwa pernyataan tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia, sesuatu yang tidak pernah menjadi niatnya.
“Kalimat tersebut kurang tepat dan menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya,” demikian inti pernyataan yang disampaikannya dalam klarifikasi.
Permohonan maaf itu ditujukan kepada seluruh masyarakat yang merasa tersinggung maupun tidak nyaman akibat unggahan tersebut, sekaligus atas kegaduhan yang timbul di ruang publik.
Akui Kesalahan dalam Berkomunikasi
Dalam pernyataannya, ia secara tegas mengakui kesalahan dalam memilih kata dan menyampaikannya di media sosial. Ia menekankan bahwa apa pun latar belakang emosional yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kritik dan masukan yang diberikan masyarakat, yang dinilai sebagai pembelajaran untuk memperbaiki diri, khususnya dalam berkomunikasi secara lebih bijaksana, jernih, dan berempati di ruang publik.
Pernyataan itu sekaligus menjadi refleksi bahwa figur yang memiliki keterkaitan dengan program negara berada dalam sorotan publik yang lebih besar, sehingga setiap pesan yang disampaikan memiliki konsekuensi sosial yang luas.
Tegaskan Tetap Mencintai Indonesia
Selain menyampaikan permohonan maaf, ia juga menegaskan kecintaannya terhadap Indonesia serta harapan untuk tetap dapat berkontribusi bagi bangsa ke depan.
Ia menyatakan bahwa Indonesia tetap menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya, dengan segala harapan dan tantangan yang ada. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi upaya meredakan anggapan bahwa dirinya menjauh dari identitas nasional.
Menutup klarifikasinya, ia mengajak masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi bersama, terlebih menjelang bulan suci Ramadan, untuk saling menata hati, memperbaiki diri, dan memperkuat empati dalam kehidupan bermasyarakat.
Load more