Soroti Ketua BEM UGM Diteror usai Surati UNICEF Demi Hentikan Program MBG, Politisi Muda: Suara Datang dari Keresahan
- Kolase Instagram/@tiyoardianto_
Pendiri Aliansi Pelajar Surabaya itu menilai reaksi sinis tersebut hanya menumbuhkan persepsi di ruang publik terkait pemerintah. Mereka menganggap pemerintah cuek mengoreksi pembenahan situasi yang carut-marut.
"Suara itu lahir dari kejujuran nurani. Respons yang keliru justru dapat memperkuat argumentasi yang disampaikan," tegasnya.
Kronologi Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM Diteror usai Berupaya Hentikan MBG

- Instagram @bem.ugm
Mulanya, Badan Eksekutif (BEM) UGM mengirim surat terbuka kepada United Nations Children's Fund (UNICEF). Tujuannya sebagai respons atas tragedi siswa SD yang bunuh diri di Ngada, NTT.
Motif YBR, siswa SD berusia 10 tahun diduga karena tidak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp10 ribu. Bagi Tiyo, aksi gantung diri dialami bocah tersebut menjadi gambaran adanya kegagalan negara.
Negara dinilai tidak memberikan jaminan hak dasar anak khususnya akses mengenai pendidikan. Tragedi anak SD bunuh diri tak lepas dari arah kebijakan dan prioritas pemerintah sekarang.
"Peristiwa ini membongkar jurang besar antara klaim keberhasilan pemerintah dan realitas yang dihadapi masyarakat, terutama kelompok paling rentan," kata Tiyo dalam keterangan pers BEM UGM, Kamis (6/2/2026).
Ia menyoroti capaian statistik dilontarkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, berbagai penyampaian dalam forum-forum rapat tidak menunjukkan kondisi riil di lapangan.
Sontak, dalam surat menyasar ke UNICEF tersebut, BEM UGM memberikan kritik kebijakan MBG. Menurut mereka, kehadiran program prioritas ini justru menggerus anggaran untuk akses pendidikan.
UNICEF dan lembaga internasional diminta memperhatikan situasi hak anak di Indonesia. Dalam surat dari Tiyo bertuliskan, "What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book? (Di dunia macam apa kita hidup ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena ia tidak mampu membeli pena dan buku?)."
Tiyo mengaku mendapat rentetan pesan WhatsApp. Ia mengabarkan setidaknya ada enam nomor misterius menggunakan kode +44 sebagai kode negara dari Inggris Raya.
"Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah," demikian bunyi pesan terhadap Tiyo.
Load more