Indonesia Dinilai Bakal Kena Dampak Konflik Iran dan AS-Israel
- dok.kolase tvonenews.com/Instagram tvOnenewscom
Jakarta, tvOnenews.com - Konflik berkepanjangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel dinilai memiliki dampak ganda bagi Indonesia.
Dampak yang bakal menghadapi di Indonesia diperkirakan pasokan energi nasional hingga potensi polarisasi ideologi di dalam negeri.
Dosen Hubungan Internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah mengatakan ancaman nyata yang dekat atas konflik Timur Tengah berupa krisis ekonomi.
Hal itu mengingat eskalasi di Selatan Hormuz yang menjadi akses perdagangan minyak global tak dapat beroperasi secara normal.

- Istimewa
"Tingginya ketergantungan impor minyak Indonesia di tengah cadangan nasional yang hanya tersisa untuk 20 hari dan minimnya kapasitas mitigasi domestik," kata Tia dalam webinar bertajuk 'Dampak Konflik Iran dan Israel-AS Terhadap Dinamika Keamanan Indonesia yang digagas oleh Iforstra (Institute for Strategic Transformation)', Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Tia memaparkan di ranah diplomasi, langkah Indonesia menghadapi hambatan usai Iran menolak tawaran mediasi sekaligus mengkritik keputusan Indonesia bergabung dengan blok Board of Peace (BoP).
Menurutnya rentetan eskalasi ini turut memicu kerawanan sosial di dalam negeri ditandai dengan penetapan status siaga tiga oleh TNI guna mengantisipasi kemungkinan demonstrasi massal.
Senada, Dosen Ketahanan Nasional SPPB UI dan pengamat Timur Tengah, Syaroni Rofii memaparkan analisanya.
Ia menjelaskan jika perang atau konflik Timur Tengah tersebut sebagai perang asimetris.
Menurutnya ketegangan makro ini dipastikan akan menekan pasokan BBM nasional dan berdampak langsung pada kelangsungan sektor usaha mikro.
"Di tengah minimnya peran PBB serta sikap China dan Rusia yang memilih memantau dari kejauhan, Indonesia disarankan mengambil jalur shuttle diplomacy untuk tampil sebagai aktor penengah strategis di kancah global," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Iforstra, M. Syauqillah mengatakan pergeseran bahaya konflik ke ruang digital yang memicu polarisasi masyarakat.
Sentimen publik terpecah ke dalam berbagai narasi, mulai dari ajakan jihad, khilafah, isu akhir zaman, hingga polarisasi pro dan anti-Syiah.
Ancaman menjadi semakin nyata apabila kelompok teror mengeksploitasi secara massif sentimen tersebut .
Tak hanya itu, Syauqillah menekankan memanasnya tensi konflik di media sosial turut memperbesar risiko munculnya lone actor atau pelaku teror tunggal yang teradikalisasi secara mandiri.
"Strategi mitigasi yang komprehensif harus disiapkan untuk merespons dampak keamanan, politik, ekonomi dan fragmentasi sosial dengan mempertimbangkan level, mulai dari level rendah, moderat, tinggi, hingga ekstrem," pungkasnya.(raa)
Load more