Kisah Danny Andrian, Mualaf yang Menemukan Ketenteraman di Lapas Cipinang
- tvOnenews - Rika Pangesti
“Jadi saya berpikir, Islam ini agama yang benar-benar tidak ada cacatnya. Kalau di Islam ini saya pikir lengkap, asli wahyu semua dari Allah, bukan cuma cerita doang,” ujarnya.
Kini, hari-hari Danny di Lapas Cipinang diisi dengan berbagai kegiatan pembinaan. Ia mengikuti kelas santri untuk belajar dasar-dasar ajaran Islam dan mulai belajar membaca Al-Qur’an di masjid lapas.
“Harapannya mudah-mudahan saya ke depannya bisa lebih mendalami agama Islam ini. Saya bisa baca Al-Quran, bisa lebih paham, karena saya benar-benar memang buta. Alhamdulillah di sini dibimbing,” katanya.
Selain kegiatan keagamaan, Danny juga aktif dalam aktivitas pembinaan lainnya. Ia ikut kegiatan Pramuka warga binaan, menjalankan piket harian, seperti tugas dalam pengibaran bendera di lingkungan lapas.
Setiap pagi pukul enam, Danny ikut menaikkan bendera Merah Putih. Menjelang sore, sekitar pukul setengah enam, ia kembali bertugas menurunkannya.
Adapun, Danny saat ini tengah menjalani masa pidana di Lapas Cipinang setelah terseret kasus penggelapan. Ia divonis hukuman 1 tahun 9 bulan penjara.
Kini hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi sebelum ia menghirup udara bebas.
“Sudah hampir 4 bulan saya di sini. Saya operan dari Rutan Cipinang. Baru di Lapas Cipinang ini 4 bulan,” ungkap Danny.
“Sudah mau pulang, tiga bulan lagi saya pulang,” sambungnya.
Ramadan tahun ini menjadi Ramadan pertama yang ia jalani. Menurutnya, terasa sunyi karena harus menjalaninya jauh dari keluarga. Namun di balik kesunyian itu, Danny justru menemukan ketenangan baru.
Di dalam lapas, ia kerap dibimbing dan dibina oleh sesama narapidana yang mengikuti kelas santri.
Danny memulai lembaran hidup yang berbeda, belajar membaca Al-Qur’an, memahami ajaran Islam, dan menata harapan untuk kehidupan yang lebih baik ketika bebas nanti.
Bagi Danny, Ramadan kali ini bukan sekadar bulan puasa. Ini adalah awal dari perjalanan iman yang baru. (rpi/aag)
Load more