Kisah Luar Biasa Verri Sanovri: Pria 50 Tahun Mudik Serpong-Palembang Pakai Sepeda Sejak 2018
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah hiruk-pikuk antrean mudik kendaraan bermotor dan sesaknya transportasi umum jelang Lebaran, terselip sebuah kisah unik dari seorang pria bernama Verri Sanovri (50).
Pria asal Serpong, Tangerang Selatan ini memilih cara yang tak biasa untuk pulang ke kampung halamannya di Palembang, Sumatera Selatan; mengayuh pedal sepeda.
Ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, pada Selasa malam, Verri tampak bugar meski telah menempuh perjalanan puluhan kilometer dari Tangerang.
Aksi mudik lintas provinsi dengan sepeda ini rupanya bukan sekadar aksi spontan, melainkan sebuah tradisi tahunan yang telah ia jaga konsistensinya sejak tahun 2018.
Verri mengaku merasa nyaman dengan pilihannya tersebut karena persiapan yang matang.
"Selama mudik dari tahun 2018 itu aman, tidak ada kendala. Makanya saya selalu konsisten dan tidak pernah memilih perjalanan malam untuk bersepeda," ujar Verri, Selasa (17/3).
Mengandalkan sepeda jenis Surly yang sudah dipastikan kelaikannya, Verri memulai perjalanan dari Serpong pada Selasa sekitar pukul 09.00 WIB.
Ia berhasil mencapai Pelabuhan Ciwandan pada pukul 20.00 WIB. Bagi pria paruh baya ini, perjalanan jarak jauh tidak membutuhkan persiapan fisik yang muluk-muluk, sebab bersepeda sudah menjadi napas kesehariannya.
Strategi perjalanannya pun cukup cerdik. Verri sangat menghindari bersepeda saat matahari sudah terbenam demi alasan keamanan.
"Saya pilih naik kapal jam 12 malam agar bisa istirahat di dalam kapal. Jadi, saat tiba di Lampung sudah waktu Subuh dan bisa lanjut jalan lagi," tambahnya.
Selama perjalanan menembus cuaca panas dan jalur hutan yang menantang, Verri membawa perlengkapan bikepacking yang sangat lengkap.
Di atas sepedanya, tersemat tas berisi tenda, kantong tidur (sleeping bag), kompor portabel, hingga peralatan lengkap untuk menyeduh kopi.
Baginya, setiap lelah yang terasa terbayar oleh kebaikan orang-orang yang ia temui di sepanjang aspal.
"Satu-satunya hiburan itu ya naik sepeda. Kalau istirahat biasanya di posko mudik. Di jalan juga banyak ketemu orang baik, tadi saja di Cikupa ada yang memberi kopi dingin," tuturnya.
Momen mudik kali ini juga menjadi pengalaman baru bagi Verri karena harus menyeberang melalui Pelabuhan Ciwandan, mengikuti aturan pengalihan arus mudik untuk roda dua.
Ia menargetkan akan sampai di rumah orang tuanya di Palembang pada tanggal 20 malam, bertepatan dengan gema takbir berkumandang.
Meski pilihannya ini kerap mengundang tanya dari keluarga besar, Verri tetap teguh. Baginya, ini bukan soal menghemat ongkos; yang diakuinya hanya selisih sekitar Rp28.500; melainkan tentang dedikasi pada hobi.
"Dari orang tua dan istri selalu bilang, 'Ngapain mudik naik sepeda?'. Cuma karena saya hobi, jadi dijalani saja," jelasnya.
Rencananya, setelah menikmati momen Idul Fitri bersama keluarga di Palembang, Verri akan kembali menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Serpong dengan cara yang sama; kembali mengayuh sepeda kesayangannya. (ant/dpi)
Load more