Kembali ke Rutinitas, Perhatikan Kembali Asupan untuk Jaga Ginjal
- Pexels/Andrea Piacquadio
Jakarta, tvOnenews.com — Usai menjalani rangkaian Ramadan dan perayaan Idul Fitri yang kerap diwarnai perubahan pola makan dan minum, masyarakat diimbau untuk kembali memperhatikan kondisi kesehatan, khususnya fungsi ginjal. Momentum setelah libur panjang dinilai menjadi waktu yang tepat untuk mengembalikan pola hidup sehat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi, dr. Jonny, Sp.PD-KGH, mengingatkan bahwa kebiasaan selama Ramadan dan Lebaran, seperti konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis, dapat berdampak pada kesehatan ginjal jika tidak segera dikendalikan.|
Menurutnya, ginjal memiliki peran penting dalam menyaring racun dan menjaga keseimbangan cairan tubuh, sehingga sangat bergantung pada kecukupan asupan cairan. Oleh karena itu, setelah periode puasa dan libur panjang, masyarakat perlu kembali memenuhi kebutuhan cairan harian dan mengatur pola makan secara seimbang.
“Air putih harus kembali menjadi pilihan utama. Sementara konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis perlu dibatasi agar tidak membebani kerja ginjal,” ujar dokter yang pernah menjadi Kepala Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto (2020-2022).
Ia menjelaskan, kebiasaan konsumsi gula dan garam berlebih dapat memicu peningkatan tekanan darah dan gula darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berisiko menyebabkan hipertensi dan diabetes, yang merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis.
Berdasarkan data BPJS Kesehatan periode 2020–2025, terjadi tren peningkatan signifikan pada jumlah peserta (jiwa), kasus pelayanan, serta biaya verifikasi layanan penyakit ginjal. Secara keseluruhan, jumlah peserta meningkat dari 290.017 pada tahun 2020 menjadi 582.771 pada tahun 2025, dengan total kasus naik dari 5,63 juta menjadi 9,21 juta. Sejalan dengan itu, biaya verifikasi juga meningkat dari Rp5,72 triliun menjadi Rp10,35 triliun. Secara kumulatif, total pelayanan selama periode tersebut mencapai 1,65 juta jiwa, 41,56 juta kasus, dengan pembiayaan sebesar Rp45,52 triliun.
Jika ditinjau berdasarkan jenis layanan, tindakan cuci darah/hemodialisis (HD) menjadi kontributor terbesar dalam pemanfaatan layanan dan pembiayaan. Jumlah peserta HD meningkat konsisten dari 123.748 jiwa pada tahun 2020 menjadi 211.753 jiwa pada tahun 2025, dengan total kasus yang juga meningkat dari 6,25 juta menjadi 9,05 juta kasus. Biaya verifikasi HD pun mengalami lonjakan signifikan dari Rp6,92 triliun menjadi Rp12,19 triliun, sehingga menjadi beban pembiayaan utama dalam penanganan penyakit ginjal.
Load more