Krisis Ketangguhan Mental Generasi Muda Menguat, Pendidikan Diminta Berubah Total
- VIVA
Jakarta, tvOnenews.com - Fenomena krisis ketangguhan mental atau resiliensi generasi muda kini menjadi perhatian serius di tingkat global. Perubahan zaman yang begitu cepat, ditambah tekanan sosial dan derasnya arus informasi, menciptakan tantangan baru yang berdampak langsung pada kondisi psikologis remaja.
Data global menunjukkan situasi yang tidak bisa dianggap sepele. Sekitar satu dari tujuh remaja usia 10 hingga 19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Di Indonesia sendiri, jumlahnya mencapai sekitar 15,5 juta anak muda. Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan mental bukan lagi isu individual, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sistemik.
Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta, Prof. Dr. Susanto, menegaskan bahwa krisis ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa jika tidak segera ditangani melalui pendekatan yang tepat, terutama di sektor pendidikan.
Disrupsi Peradaban Picu Kerentanan Mental
![]()
Dalam orasi ilmiahnya saat pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta yang digelar di Universitas Islam Internasional Indonesia pada 8 April 2026, Prof. Susanto mengungkapkan bahwa disrupsi peradaban menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kerentanan mental generasi muda.
Kemajuan teknologi yang seharusnya memudahkan kehidupan justru menghadirkan tekanan baru. Akses informasi yang tanpa batas, ekspektasi sosial yang tinggi, serta perubahan yang cepat membuat banyak individu kesulitan beradaptasi secara mental.
“Kondisi ini menciptakan paradoks. Di satu sisi generasi muda semakin cerdas dan adaptif secara teknologi, namun di sisi lain semakin rentan secara psikologis,” ujarnya.
Kritik Konsep “Strawberry Generation”
Fenomena ini kerap dikaitkan dengan istilah “strawberry generation”, yang menggambarkan generasi yang tampak unggul namun mudah rapuh. Namun, Prof. Susanto menilai istilah tersebut kurang tepat karena cenderung menggeneralisasi kelompok usia tertentu.
Ia menawarkan pendekatan yang lebih akurat melalui konsep “strawberry mentality”. Menurutnya, yang menjadi persoalan bukanlah generasi, melainkan pola mental individu yang mudah menyerah, kurang tahan tekanan, dan cenderung menghindari tantangan.
“Ini bukan soal usia, tetapi soal mentalitas. Bahkan individu dengan prestasi tinggi pun bisa mengalami hal ini,” tegasnya.
Load more