Lensa Berbicara: Limbah Plastik Jadi Sumber Penyambung Hidup Warga Pancoran Jakarta
- tvOnenews - Julio
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah guncangan politik global hingga ketidak pastian ekonomi di dunia. Lensa tim fotografer tvOnenews.com berbicara terkait temuan fenomena di kawasan Kampung Pemulung Pancoran Buntu 2, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Dalam tangkapan lensa fotografer tvOnenews.com, tampak limbah plastik sebagai sumber penghasilan di tengah berbagai keterbatasan.
- tvOnenews - Julio
Selain itu, terlihat tumpukan plastik tampak memenuhi sudut-sudut kampung, menjadi pemandangan sehari-hari bagi para pemulung.
Bagi sebagian besar kepala keluarga, sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber utama penghidupan.
Bahkan setiap harinya, warga memilah berbagai jenis plastik untuk kemudian dikumpulkan dan dijual ke pengepul.
Aktivitas ini dilakukan di lingkungan terbuka dengan kondisi yang jauh dari kata layak, mulai dari air yeng menggenag di tanah hingga bau menyengat dari limbah yang menumpuk.
Di balik aktivitas tersebut, risiko kesehatan terus mengintai. Para pekerja harus berhadapan langsung dengan limbah tanpa perlindungan memadai, rentan mengalami penyakit kulit hingga luka akibat benda tajam seperti pecahan kaca.
- tvOnenews - Julio
Meski demikian, pekerjaan ini tetap dijalani demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam sehari, para pemulung akui memperoleh penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung jumlah dan jenis plastik yang berhasil dikumpulkan.
Selain itu, pemulung mengaku kampung ini juga menjadi titik penampungan sementara bagi ribuan kilogram limbah plastik sebelum diproses lebih lanjut.
Aktivitas tersebut menjadikan kawasan ini sebagai bagian penting dalam rantai daur ulang, meskipun dilakukan secara informal.
- tvOnenews - Julio
Di samping itu, mereka hidup di Pancoran Buntu 2 yang berdampingan dengan tumpukan sampah.
Risiko kesehatan, serta kondisi lingkungan yang semakin sulit, tidak menjadi sebuah penghalang demi bertahan hidup.
Bahkan saat hujan yang membuat area menjadi licin dan rawan kecelakaan, mereka tetap memilih untuk di tempat itu demi hidup dan menghidupi. (jts/aag)
Load more