Persatuan di Era Digital Jadi Kunci, Mahasiswa Ingatkan Bahaya Disinformasi dan Polarisasi
- Istimewa
Literasi Politik dan Hukum Jadi Kunci
Menurut Tirta, pemahaman terhadap aspek hukum dan politik sangat penting agar mahasiswa tidak mudah terjebak dalam narasi yang menyesatkan. Ia juga mengingatkan bahwa terganggunya persatuan dapat berdampak luas terhadap berbagai sektor.
“Kalau persatuan terganggu, dampaknya ke mana-mana—investasi menurun, ekonomi terganggu, hingga stabilitas negara terancam,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, yang menilai kondisi geopolitik global saat ini turut memengaruhi situasi dalam negeri.
“Geopolitik dunia sangat berdampak pada kita, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan seperti BBM. Mahasiswa harus mampu menjelaskan ini ke masyarakat, namun tetap kritis terhadap kebijakan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti maraknya disinformasi di media sosial yang kerap memicu perpecahan di kalangan mahasiswa.
“Jangan sampai kita terpecah hanya karena narasi yang tidak jelas. Kita harus verifikasi setiap informasi,” katanya.
Persatuan Bukan Sekadar Slogan
Sementara itu, Koordinator Nasional BEM PTMAI, Yogi Syahputra Alaydrus, menegaskan bahwa persatuan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya menjadi jargon.
“Persatuan itu bukan sekadar berkumpul, tapi bagaimana kita menjaga kesatuan berdasarkan konstitusi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya sikap kritis yang tetap objektif dalam melihat kebijakan pemerintah, termasuk dalam konteks pemerataan pembangunan.
“Kebijakan adalah alat untuk menciptakan kesejahteraan. Maka kita harus kritis, tapi juga objektif melihat konteksnya,” jelasnya.
Para narasumber sepakat bahwa kekuatan utama mahasiswa terletak pada persatuan dan kemampuan berpikir kritis. Tanpa dua hal tersebut, gerakan mahasiswa dinilai akan mudah terpecah dan kehilangan arah.
“Kalau kita bersatu, kita kuat. Tapi kalau terpecah, sulit memperjuangkan kepentingan rakyat,” pungkas Muzammil. (nsp)
Load more