Solusi di Tengah Ancaman Krisis Energi, IAGL ITB Dorong Pemerintah Tingkatkan Industri Baterai Nikel
- Istimewa
Sugeng berharap para geolog mampu mengeksplorasi dan eksploitasi hingga 68 cekungan tersebut dapat diketahui apakah hanya berupa sedimen saja atau berupa hidrokarbon.
"Tentunya itulah yang menjadi concern kami juga. Sehingga apa cadangan nasional kita atau cadangan geologis di migas misalnya hari ini kan kecil sekali. Kita hanya 2,4 miliar barel saja," ucap Sugeng.
Eksplorasi yang dilakukan oleh kaum geolog disebutkan Sugeng sangat penting karena dapat mengungkap akurasi cadangan geologis sektor migas menjadi penting.
Mengenai hilirisasi nikel dikatakan Sugeng saat ini telah dilakukan pemerintah. Hilirisasi dikemukakannya ada dalam mata rantai atau ekosistem industri di tingkat-tingkat tertentu.
"Memang hilir dari segala hilir adalah industri salah satunya baterai tapi kita hari ini kan sudah memproduksi NPI (nickel pig iron) untuk baja, stainless steel dan produk-produk lain. Jadi memang dalam konteks industri itu ya semuanya memang bertahap," ungkapnya.
"Dan kita sudah dorong di nikel misalnya, bahkan sudah firesmikan oleh Presiden, namanya IBC Indonesia Battery Corporation dengan basis litium ion. Memang ya kita akan terus memproduksi baterai karena ujung dari segala pertarungan energi salah satunya adalah baterai energy storage system BESS. Nah inilah dan Indonesia kebetulan dengan litium ion itu kita punya nikel, yang besar, kita juga punya kobalt," sambung Sugeng.
Perihal batubara, Sugeng menuturkan saat ini pasokan batubara yang sangat mencukupi membuat harga listrik masih terjangkau oleh masyarakat.
"Batubara kita ada kebijakan DMO (domestic market obligation) dan juga DPO (domestic price obligation). Batubara untuk kepentingan listrik itu hanya 70 dolar per ton untuk GAR tertinggi. Nah yang dikonsumsi PLN kan GAR 4000 maka relatif murah karena 67% listrik kita ini masih dengan PLTU batubara sebagai base loadnya," pungkasnya.(raa)
Load more