Kadisdik Jabar Beberkan Skema ‘Sekolah Maung’ Gagasan KDM, Mulai Berjalan Tahun Ajaran 2026/2027
- Instagram Dedi Mulyadi
tvOnenews.com - Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan terus mematangkan langkah strategis dalam menghadirkan inovasi pendidikan bertajuk “Sekolah Maung”.
Program yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ini dirancang sebagai model pendidikan unggulan yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan kualitas pendidikan yang lebih kompetitif dan adaptif.
Rencana implementasi Sekolah Maung ditargetkan mulai berjalan pada tahun ajaran 2026/2027.
Dalam tahap awal, konsep ini akan diterapkan secara bertahap di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat, mencakup jenjang SMA dan SMK.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto dalam sebuah forum koordinasi bersama jajaran pendidikan.
- Instagram Dedi Mulyadi
“Sekolah Maung gagasan Pak Gubernur ini akan dilaksanakan secara bertahap, dengan proses transformasi yang juga bertahap,” ujar Purwanto, Selasa (21/4/2026).
Sebagai bagian dari tahap awal, pemerintah akan mulai menunjuk sekolah-sekolah yang bersifat permanen untuk dijadikan pilot project.
Penunjukan ini sekaligus menjadi langkah awal transformasi sistem pendidikan, termasuk dalam aspek penerimaan siswa baru yang akan mengalami penyesuaian signifikan.
Salah satu perubahan mencolok terletak pada mekanisme seleksi peserta didik.
Berbeda dari sistem umum yang selama ini digunakan, Sekolah Maung akan menerapkan seleksi lebih awal.
Tujuannya adalah memberikan kesempatan yang lebih luas bagi calon siswa yang belum berhasil lolos agar tetap bisa mengikuti proses pendaftaran di sekolah reguler.
- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
“Seleksi siswa yang mendaftar ke Sekolah Maung akan kita lakukan lebih awal agar yang tidak diterima tetap memiliki kesempatan untuk mendaftar ke sekolah umum pada SPMB,” lanjutnya.
Dalam hal jalur penerimaan, Sekolah Maung tidak akan menggunakan jalur domisili.
Sebaliknya, seleksi akan difokuskan pada jalur prestasi, baik akademik maupun nonakademik.
Skema ini diharapkan mampu menjaring siswa-siswa dengan potensi unggul dari berbagai daerah tanpa dibatasi oleh wilayah tempat tinggal.
Selain itu, kapasitas belajar juga telah dirancang secara terukur.
Setiap sekolah nantinya akan memiliki sekitar 8 hingga 12 rombongan belajar (rombel), dengan jumlah maksimal 32 siswa dalam satu kelas.
- Antara
Pengaturan ini akan dituangkan lebih rinci dalam petunjuk teknis (juknis) yang saat ini masih dalam tahap penyusunan.
Untuk mengantisipasi lonjakan minat masyarakat, Dinas Pendidikan Jawa Barat juga menyiapkan strategi pendukung melalui kerja sama dengan sekolah swasta.
Skema sister school atau sekolah kerja sama menjadi solusi alternatif sebagai penyangga apabila kapasitas sekolah negeri tidak mencukupi.
“Kami juga membuka ruang partisipasi masyarakat, termasuk bagi masyarakat dengan penghasilan di atas Rp10 juta per bulan,” katanya.
Langkah ini menunjukkan bahwa program Sekolah Maung tidak hanya menyasar pemerataan akses pendidikan, tetapi juga mencoba menarik minat masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi, termasuk mereka yang selama ini memilih sekolah berbiaya tinggi.
Sebagai bentuk dukungan konkret, pemerintah daerah berencana meningkatkan alokasi Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (BOPD).
Dana ini akan difokuskan untuk menunjang kebutuhan pembelajaran, mulai dari fasilitas hingga pengembangan kualitas tenaga pendidik.
Tak hanya itu, penyusunan petunjuk teknis terus dikebut agar pelaksanaan program dapat berjalan sesuai rencana.
Pemerintah juga membuka ruang dialog untuk menyerap berbagai masukan dari para pemangku kepentingan di sektor pendidikan.
Ia juga menegaskan, penyusunan juknis terus dilakukan agar pelaksanaan berjalan lancar.
“Forum ini juga penting untuk menampung berbagai pertanyaan dan masukan. Kalau ada kritik, itu menjadi bahan perbaikan bagi kami,” ujarnya.
Hingga saat ini, konsep Sekolah Maung masih terus dikembangkan secara komprehensif.
Pemerintah berharap program ini tidak hanya menjadi inovasi sesaat, melainkan mampu diimplementasikan secara luas di seluruh wilayah Jawa Barat dan menjadi model pendidikan unggulan di masa depan. (gwn)
Load more