“Mamah Pulang Malam” Chat Terakhir Guru Nurlaela ke Anak Semata Wayang Sebelum Tewas dalam Tragedi Kereta Bekasi
- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Jakarta, tvOnenews.com - Duka mendalam menyelimuti keluarga Nurlaela (39), guru SDN Pulogebang II yang menjadi salah satu korban meninggal dalam kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.
Di rumah duka di Cikarang Timur, cerita memilukan terungkap saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang melayat. Anak semata wayang Nurlaela menceritakan percakapan terakhir dengan ibunya beberapa jam sebelum tragedi terjadi.
Pesan singkat itu diterima sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu sang anak menanyakan keberadaan ibunya yang belum pulang.
“Iya, saya tanya ‘Mamah di mana’, dijawab masih di sekolah, pulang malam,” ujarnya.
Tak ada firasat apa pun saat itu. Sang anak mengaku tak menaruh curiga karena ibunya kerap pulang malam bila ada kegiatan di sekolah.
Namun malam itu berbeda. Hingga larut, Nurlaela tak kunjung tiba di rumah.
"Biasanya kalau ada kegiatan jam 9 atau 10 itu sudah pulang. Ini belum pulang-pulang juga," tutur suami korban kepada Dedi Mulyadi.
Kekhawatiran keluarga berubah menjadi kabar memilukan ketika ponsel Nurlaela ditemukan petugas di lokasi kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek.
Suasana rumah duka dipenuhi tangis keluarga dan kerabat yang mengenang sosok Nurlaela sebagai guru yang berdedikasi tinggi. Selama bertahun-tahun, ia mengabdi sebagai guru di Jakarta Timur dan belum lama ini menuntaskan pendidikan magister.
Kepergian Nurlaela meninggalkan luka mendalam, terutama bagi anak tunggalnya yang kini duduk di kelas 6 SD.
Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi tak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga memberikan bantuan bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Saya akan menjadikan anaknya sebagai anak angkat dan menjamin biaya pendidikan hingga kuliah,” ujar Dedi Mulyadi.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan santunan sebesar Rp50 juta untuk keluarga korban.
Dedi Mulyadi juga menegaskan tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi serius terkait keselamatan transportasi publik agar kejadian serupa tak terulang.
“Kecelakaan transportasi publik yang menelan korban jiwa tidak boleh terjadi lagi. Semua harus diusut tuntas,” tegasnya.
Nurlaela dikenal sebagai sosok pekerja keras. Selama empat tahun terakhir, ia rutin menempuh perjalanan dari Cikarang menuju Jakarta Timur demi menjalankan tugas sebagai guru PNS.
Dedikasinya di dunia pendidikan kini menjadi kenangan bagi keluarga, murid, dan rekan sesama pendidik.
Tangis keluarga kembali pecah saat proses pemakaman berlangsung di area pemakaman dekat rumahnya.
Suami dan ibunda korban tak mampu menyembunyikan duka, sementara anak semata wayangnya kini harus melanjutkan hidup tanpa sosok ibu yang selama ini menjadi tempat pulang. (nba)
Load more