Tragedi Bekasi Timur Picu Desakan Percepatan Double-Double Track, DPR Soroti Sistem Keselamatan KRL
- dok viva semarang/ KAI Commuter
Jakarta, tvOnenews.com - Desakan percepatan pembangunan double-double track (DDT) menguat setelah insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, Jawa Barat. Tragedi yang menewaskan 16 orang dan melukai puluhan lainnya itu dinilai menjadi alarm serius bagi pengelolaan transportasi rel di kawasan padat seperti Jabodetabek.
Anggota Komisi V DPR RI, Rofik Hananto, menegaskan bahwa percepatan pembangunan double-double track merupakan solusi jangka panjang untuk mengurangi kepadatan jalur kereta, khususnya lintas Jakarta–Cikarang.
Double-Double Track Jadi Solusi Kemacetan Jalur KRL
Menurut Rofik, keberadaan double-double track akan memberikan dampak signifikan terhadap operasional kereta api. Dengan jalur ganda yang lebih terpisah, frekuensi perjalanan dapat diatur lebih baik dan konflik antar kereta dapat diminimalkan.
“Dengan double track, frekuensi dan pergerakan kereta bisa lebih teratur, mengurangi kepadatan, serta meminimalkan potensi konflik,” ujarnya.
Proyek double-double track sendiri selama ini memang digadang-gadang sebagai solusi untuk memisahkan jalur kereta jarak jauh dan kereta komuter, yang saat ini masih berbagi lintasan.
Kronologi Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
Insiden yang terjadi pada Senin (27/4/2026) melibatkan kereta Commuter Line Cikarang dan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek.
Berdasarkan penjelasan Kementerian Perhubungan, kronologi kecelakaan bermula dari tabrakan antara KRL Bekasi–Cikarang dengan sebuah mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut:
-
Petugas menghentikan kereta lain (PLB 5568) di Stasiun Bekasi Timur
-
Kereta Argo Bromo Anggrek yang melaju dari Jakarta menuju Surabaya gagal berhenti sempurna
-
Tabrakan pun tidak terhindarkan
Peristiwa ini menyebabkan korban jiwa dan luka dalam jumlah besar, sekaligus memicu evaluasi besar-besaran terhadap sistem keselamatan kereta.
Evaluasi Sistem Keselamatan Kereta Api
Rofik menekankan bahwa selain percepatan double-double track, aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama. Ia meminta PT Kereta Api Indonesia dan pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh.
Beberapa poin yang disorot antara lain:
-
Sistem sinyal darurat
-
Kecepatan komunikasi antar masinis
-
Protokol penghentian kereta di jalur padat
-
Pengawasan dan disiplin petugas
Menurutnya, sistem keselamatan harus diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang.
Load more