Viral, Detik-detik Pemuka Agama Diduga Cabuli 50 Siswi di Pati, Kuasa Hukum Korban: Ada yang SMP
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Mencuat kabar terkait detik-detik pemuka gama di Pati, Jawa Tengah diduga cabuli 50 siswi. Kabar itu viral di media sosial, hingga menyedot perhatian dan komentar warganet.
Bahkan lebih ironisnya lagi, dikabarkan 50 korban tersebut merupakan santriwati dan pelakunya seorang kiai.
Dalam kasus ini, Kuasa hukum korban, Ali Yusron jelaskan, kasus ini terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.
Namun, baru pada 2024 korban berani melapor ke polisi. Meski demikian, hingga saat ini terduga pelaku masih bebas berkeliaran.
- Istimewa
Ali Yusron menyebut, korban merupakan santriwati di pesantren yang dibina oleh terduga pelaku.
Kebanyakan korban merupakan anak yatim dari keluarga kurang mampu. Mereka mayoritas masih duduk di bangku SMP/sederajat.
Kemudian, pondok pesantren binaan terduga pelaku tidak membebankan biaya pada para santrinya alias gratis.
”Korbannya antara 30-50 orang. Ada yang kelas 1 SMP, ada yang kelas 3 SMP. Korban yang saya dampingi satu orang, tapi bisa membuka pintu pengungkapan korban-korban lainnya. Sudah ada dua orang yang siap menjadi saksi,” bebernya, Rabu (29/4/2026).
Lanjutnya menjelaskan, bahwa modus terduga pelaku adalah meminta korban menemaninya tidur di kamar dengan ancaman akan dikeluarkan dari pondok jika menolak.
”Kronologi awalnya si S ini WA ke santriwati pada pukul 12 malam, minta ditemani tidur. Korban menolak. Tapi diancam, kalau tidak menurut, akan dikeluarkan (dari pondok),” jelasnya.
Menurut Ali, dengan modus yang sama, pemuka agama yang cabul ini juga menyasar sejumlah santriwati lain.
Bahkan, kata dia, pada suatu malam, terduga pelaku disebut pernah meniduri dua santriwati secara bergantian.
Dalam melancarkan aksi bejatnya, si kiai cabul ini menggunakan salah satu ruangan pondok hingga sebuah kamar yang tak jauh dari kamar istrinya.
"Dalam BAP disebutkan ada dua tempat. Tempat pertama di bedeng, semacam kantor karyawan. Yang kedua di kamar sebelah kamar istrinya,” bebernya.
Selain itu, ia juga beberkan, bahwa salah satu korban sampai hamil.
Demi menutupi kejahatannya, terduga pelaku pun menikahkan korban dengan seorang santri laki-laki.
”Korban tidak berani (melawan) karena kebanyakan anak yatim, tidak punya orang tua, dititipkan di sana agar sekolah gratis,” jelasnya.
Maka dari itu, ia mendesak aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas guna memastikan keadilan bagi para santriwati yang menjadi korban.
Hingga saat ini, tercatat ada delapan korban yang secara resmi mengadu.
“Korban aduan ada delapan, dan itu belum dicabut. Informasi yang kami dapat, jumlahnya bisa sampai 50 korban,” ucap Ali, Rabu (29/4/2026).
Load more