Dedi Mulyadi Geram Palang Pintu Kereta di Ampera Bekasi Masih Manual dan Dijaga Ormas
- Tangkapan layar Instagram @dedimulyadi71 - ANTARA
tvOnenews.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi secara terang-terangan meluapkan kegeramannya melihat sistem perlintasan kereta api yang masih dikelola secara manual pasca tragedi kecelakaan maut KRL vs KA Argo Bromo Anggerek, Senin (27/4/2026).
Bahkan, ia menyoroti fakta di lapangan di mana palang pintu masih dijaga oleh ormas atau masyarakat sekitar, sebuah kondisi yang dinilai sangat rawan celah kesalahan manusia.
Bagi Dedi, modernisasi sistem bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak untuk kawasan dengan lalu lintas kereta padat seperti Bekasi.
- Tangkapan layar tvOne
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @Dedimulyadi71 pada Jumat (1/5/2026), Dedi membeberkan estimasi biaya pengadaan sistem digital yang berkisar antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar untuk satu titik perlintasan sebidang.
“Saya sudah meminta Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat untuk melakukan pengadaan dan pemasangan palang pintu digital. Biayanya antara Rp500 juta sampai Rp1 miliar. Laksanakan, alokasinya tersedia,” tegas Dedi Mulyadi.
Angka miliaran tersebut bukan tanpa alasan. Berbeda dengan palang manual yang "seadanya", sistem digital ini akan mengintegrasikan sensor otomatis, sinyal jaringan kereta, hingga sistem peringatan dini guna meminimalisir risiko kecelakaan maut.
- Antara
Dedi Mulyadi juga mengkritik fenomena keterlibatan ormas atau warga dalam menjaga perlintasan kereta api.
Menurutnya, hal ini adalah tamparan keras bagi pemerintah yang seolah belum hadir sepenuhnya dalam menjamin keselamatan warga di perlintasan kereta.
“Masih ada pintu perlintasan kereta api yang kemarin terjadi musibah, masih dijaga oleh orang. Apakah itu ormas atau masyarakat setempat, bagi saya itu tidak penting. Yang penting ini bukan kewajiban mereka. Ini kewajibannya aparat,” ujarnya dengan nada tegas.
Tragedi di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 menjadi bukti betapa mahalnya harga yang harus dibayar akibat sistem yang usang.
Kecelakaan yang melibatkan KRL relasi Bekasi–Cikarang, taksi, hingga hantaman KA Argo Bromo Anggrek tersebut tidak hanya menimbulkan kekacauan perjalanan, tetapi juga merenggut 16 nyawa sekaligus.
Load more