MSCI Umumkan Nasib Saham Indonesia Malam Ini, Ini yang Ditunggu Investor Saat IHSG Anjlok
- ANTARA
3. Potensi Ada Saham Indonesia yang Dikeluarkan
Selain tidak ada saham baru yang masuk, pasar juga khawatir sejumlah saham Indonesia justru berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI.
Saham yang memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) disebut paling berisiko terkena evaluasi.
Jika saham-saham tersebut keluar dari indeks MSCI, maka potensi tekanan jual asing diperkirakan semakin besar.
4. Risiko Dana Asing Keluar hingga Rp31 Triliun
Salah satu dampak yang paling ditakuti pasar adalah potensi capital outflow atau dana asing keluar dari Indonesia.
Sejumlah analis memperkirakan hasil rebalancing MSCI dapat memicu outflow hingga US$1,8 miliar atau setara sekitar Rp31,5 triliun.
Arus keluar dana asing tersebut berpotensi menekan IHSG lebih dalam sekaligus memperlemah nilai tukar rupiah.
5. Reformasi Pasar Modal Indonesia Jadi Sorotan
MSCI juga masih melakukan evaluasi terhadap reformasi pasar modal Indonesia, khususnya terkait keterbukaan pemegang saham dan aturan free float.
Bursa Efek Indonesia dan OJK saat ini terus mendorong reformasi pasar agar memenuhi standar global MSCI.
Namun dalam jangka pendek, reformasi tersebut justru berpotensi memberikan tekanan sementara terhadap pasar.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai kondisi saat ini merupakan bagian dari proses penguatan pasar modal Indonesia.
“Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain,” ujar Friderica.
Efektif Berlaku Akhir Mei 2026
Jika terdapat perubahan dalam hasil review MSCI, maka seluruh penyesuaian tersebut akan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Karena itu, pasar saat ini masih bergerak sangat hati-hati sambil menunggu kepastian hasil pengumuman resmi.
IHSG dan Rupiah Sama-Sama Tertekan
Tekanan terhadap IHSG juga diperburuk oleh sentimen global.
Penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Di sisi lain, memanasnya konflik antara AS dan Iran turut memperbesar kekhawatiran pasar global.
Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut gencatan senjata dengan Iran berada di “ujung tanduk” setelah Teheran menolak proposal damai Washington.
Load more