Rupiah Anjlok, Indonesia Diprediksi Bakal Diserbu Turis Mancanegara
- tvOne - aris wiyanto
Jakarta, tvOnenews.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang dibuka perdagangan level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (2/6/2026) ternyata tidak selalu membawa kabar buruk.
Di tengah kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan tekanan ekonomi domestik, sektor pariwisata justru disebut menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan.
Ketika warga Indonesia mulai mengurangi perjalanan ke luar negeri akibat mahalnya biaya wisata, Indonesia justru semakin menarik di mata wisatawan mancanegara yang membawa mata uang lebih kuat.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah menciptakan efek “diskon” bagi wisatawan asing yang berlibur ke Tanah Air.
“Jadi pelemahan mata uang rupiah ini rupanya sangat menguntungkan bagi pariwisata Indonesia. Tetapi masyarakat Indonesia yang pergi, ya berpariwisata ke negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, ya ini berkurang,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, selama ini wisatawan Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesar sektor pariwisata Singapura. Namun kondisi tersebut mulai berubah seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara-negara tetangga.
“Kita tahu bahwa sebelumnya Singapura ini banyak sekali wisatawan dari Indonesia yang datang ke sana, bahkan terbanyak ya di Singapura,” ujarnya.
“Ya tetapi dalam kondisi rupiah mengalami pelemahan, penerbangan ke luar negeri terutama untuk wisatawan itu mengalami penurunan,” lanjutnya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah justru membuat biaya berlibur di Indonesia menjadi jauh lebih murah bagi wisatawan asing. Kondisi ini mendorong lonjakan minat kunjungan dari negara-negara ASEAN hingga Eropa dan Amerika.
“Tetapi sekarang berbalik, pada saat rupiah melemah terhadap dolar Singapura ya di Rp14.000, kemudian di ini Ringgit Malaysia yang mau mendekati Rp5.000, ya ini rupanya orang-orang asing seperti Malaysia, Singapura, Brunei, ya mereka berbondong-bondong datang ke Indonesia,” kata Ibrahim.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kawasan regional. Wisatawan dari negara-negara dengan mata uang kuat juga dinilai semakin tertarik menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata karena daya beli mereka meningkat tajam.
“Nah, bukan saja dari ASEAN ya, tetapi dari Eropa, dari Amerika pun juga yang mata uangnya Euro-nya juga di atas Rp20.000 ya, Rp22.000, kemudian Poundsterling-nya sudah Rp25.000, ya mereka berdatangan,” ujarnya.
Ibrahim mengakui pelemahan rupiah tetap membawa konsekuensi negatif terhadap perekonomian nasional, terutama melalui penurunan daya beli masyarakat. Namun, ia melihat sektor pariwisata menjadi pengecualian yang justru menikmati momentum pertumbuhan.
“Nah, ini yang cukup menarik. Jadi ada segi positifnya. Memang negatifnya kondisi geopolitik ini membuat kondisi ekonomi terutama daya beli masyarakat kita kan menurun, tetapi di sisi lain pariwisata ini terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan,” katanya.
“Dan ini ya membuktikan bahwa di saat geopolitik memanas, rupiah melemah, tapi ini ada manfaatnya juga bagi pariwisata,” tambahnya.
Bahkan, Ibrahim memperkirakan sektor pariwisata berpotensi mengalami lonjakan kunjungan yang sangat besar dalam dua tahun terakhir.
“Dan kemungkinan besar pariwisata di Indonesia dari tahun 2025 ke tahun 2026 lonjakannya mungkin tiga kali lipat,” ujarnya.
Pandangan serupa sebelumnya disampaikan Kementerian Pariwisata. Di saat banyak pihak mengkhawatirkan pelemahan rupiah, pemerintah melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di pasar global.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa pelemahan rupiah justru membuat wisatawan asing mendapatkan nilai lebih saat berlibur ke Indonesia.
“Ini peluang, selalu tidak pernah kita tolak selalu ada tantangan pasti ada peluangnya, peluang pelemahan rupiah ini kita garap,” kata Ayu.
Beberapa destinasi wisata yang menjadi favorit turis asing antara lain Bali, Lombok, Labuan Bajo, Anyer, Pulau Seribu, hingga Bromo.(agr/raa)
Load more