Saling Adu Data, Pengamat Ekonomi sebut Rupiah Semakin Anjlok, Gubernur BI sebut Rupiah akan Bangkit 2027
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Semua mata publik tertuju pada nilai tukar rupiah yang semakin anjlok. Bahkan, elite politik hingga pengamat ekonomi mengomentari terkait anjloknya nilai rupiah. Bahkan hal ini juga membuat Gubernur Bank Indonesia (Gubernur BI) Perry Warjiyo angkat bicara dan paparkan sebuat data.
Tak hanya Gubernur BI saja, Pengamat Ekonomi Ibrahim Assuaibi juga paparkan datanya hingga memprediksi nilai rupiah ke depannya.
Dalam hal ini, Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah justru akan makin tertekan karena belum adanya kebijakan yang membuat investor percaya terhadap ekonomi Indonesia.
Menurut Ibrahim, investor atau pasar saat ini gelisah dengan agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo Subianto terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, yang membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar.
"Pelebaran defisit tersebut, terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia," ucap Ibrahim yang menjadi Direktur PT Traze Andalan Futures, dikutip Selasa, (9/6/2026).
Kemudian, pada kuartal I-2026, transaksi berjalan Indonesia sudah mencatat defisit sekitar 4 miliar dolar AS. Ke depan, tekanan diperkirakan semakin besar apabila harga minyak dunia tetap tinggi dan nilai tukar rupiah terus melemah
Menurutnya, pelemahan rupiah membuat pemerintah harus menghitung ulang subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah.
"Harga minyak yang tinggi membuat kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat utang pemerintah semakin membengkak," papar Ibrahim.
Mengenai faktor eksternal yang menekan kurs rupiah, Ibrahim menyebut masih datang dari tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas usai serangan Israel ke Lebanon dan Iran.
"Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan, menurut laporan media lokal pada Senin pagi. Ini mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz," pungkasnya.
Sementara, Gubernur BI, Perry Warjiyo optimistis bahwa pada tahun 2027 kurs rupiah akan menguat seiring dengan kondisi ekonomi dunia yang diproyeksikan membaik.
Selain itu, dia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 akan meningkat dibandingkan tahun ini. Adapun pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi diumumkan mencapai 5,61 persen.
“Ini kisaran kami, 5,1 sampai 5,9 persen (tahun 2027). Tapi kami yakin akan lebih ke batas atas,” ucapnya dalam Rapat Kerja Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa, (9/6/2026).
Kemudian, ia memprediksi kurs rupiah pada tahun 2027 akan berkisar Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Dia menyebut ada lima faktor yang akan mendorong penguatan nilai tukar rupiah.
Pertama, kondisi ekonomi dunia tahun 2027 diyakini akan membaik. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan naik ke angka 3,1 persen.
Kondisi-kondisi itu, menurut Perry, diharapkan bisa mendorong inflow (aliran masuk) ke emerging markets (pasar negara berkembang), termasuk ke Indonesia.
“Yang kedua, yang selalu disampaikan Pak Menteri Keuangan dan saya mengulang-ulangi, fundamental ekonomi yang baik akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah. Pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasinya rendah, defisit transaksi berjalan juga rendah, imbal hasilnya menarik. Terus cadangan devisa juga lebih dari cukup,” jelasnya.
Faktor yang ketiga adalah kebijakan Presiden Prabowo Subianto mengenai ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI). Menurut Perry, kebijakan itu akan meningkatkan ekspor, devisa hasil ekspor, dan penerimaan negara, sehingga menguatkan kurs rupiah.
Yang keempat adalah komitmen kuat Indonesia untuk terus menjaga nilai tukar rupiah baik melalui intervensi dan kebijakan lainnya.
“Yang kelima, koordinasi erat kebijakan fiskal moneter, kebijakan fiskal pemerintah, dan kebijakan moneter Bank Indonesia. Termasuk dari waktu ke waktu, sekarang kami berdua difokuskan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah."
“Kemarin kita sudah umumkan bersama bagaimana fiskal moneter sama-sama menstabilkan nilai tukar rupiah, yaitu meningkatkan daya tarik imbal hasil investasi asing dan menjaga kecukupan likuiditas,” sambungnya.
Kemudian, ia juga sampaikan, bahwa nilai tukar rupiah akan membaik tahun depan.
Adapun menurut laman resmi BI, per 9 Juni 2026 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp18.261 (kurs jual) dan Rp18.080 (kurs beli). (aag)
Load more