Miris, Jakarta Masih Masuk Daftar Kota dengan Tingkat Polusi Udara Tertinggi di Asia Tenggara
- ANTARA
Selain polusi dari kendaraan kontainer, warga juga menghadapi persoalan pembakaran sampah terbuka yang masih terjadi di lingkungan permukiman. Praktik tersebut menjadi salah satu penyumbang emisi PM2.5 yang berbahaya bagi kesehatan, terutama anak-anak dan lansia.
Penggerak Bank Sampah Kenanga, Nur Fiyah, mengatakan gerakan yang awalnya hanya berfokus pada pengelolaan sampah kini berkembang menjadi upaya menjaga kualitas hidup warga.
"Kami tidak hanya ingin sampah tidak dibakar. Kami ingin warga sadar kalau kita berdaya mengurangi sumber polusi, dan itu juga memberi manfaat bagi warga sendiri," katanya.
Sejak berdiri pada 2017, Bank Sampah Kenanga kini memiliki lebih dari 600 nasabah aktif. Hasil pengelolaan sampah dimanfaatkan warga untuk kebutuhan pendidikan, biaya persalinan, hingga modal usaha kecil.
Tak hanya itu, warga juga mulai mengubah sejumlah lahan menjadi ruang hijau. Bekas lahan parkir kontainer kini disulap menjadi taman warga dan sedang dikembangkan bersama area waduk untuk menambah ruang terbuka hijau di kawasan tersebut.
"Kami mau anak-anak kami punya tempat bermain yang layak dan udara yang bisa dihirup dengan tenang," ujar Nur Fiyah.
Kepala Sub-kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rahmawat, mengapresiasi keterlibatan komunitas dalam upaya pengendalian polusi udara.
“Apa yang komunitas lakukan ini bukan hanya melengkapi program pemerintah. Ini yang seharusnya menjadi fondasi kebijakan udara bersih kita ke depan,” ungkapnya.
Forum tersebut juga menjadi momentum penguatan platform Jakarta Rendah Emisi (JRE) sebagai ruang kolaborasi antara warga, komunitas sipil, dan pemerintah daerah dalam mendorong aksi pengendalian polusi udara di tingkat lokal.
Indonesia Country Coordinator Vital Strategies sekaligus perwakilan Breathe Cities Jakarta, Imelda Maidir, berharap gerakan warga semacam ini dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak masyarakat.
"Forum ini tidak boleh berhenti di sini. JRE adalah tempat kita melanjutkan percakapan ini setiap hari," ujarnya. (cmi)
Load more