Mengenal Doktrin Baru TNI ‘Perisai Trisula Nusantara’, Jawaban Indonesia Hadapi Perang Modern
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Indonesia mulai memasuki babak baru dalam strategi pertahanannya di tengah memanasnya rivalitas geopolitik kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah dan TNI kini mengusung doktrin baru bernama Perisai Trisula Nusantara sebagai upaya menyesuaikan diri dengan pola peperangan modern yang terus berubah.
Doktrin tersebut dinilai bukan sekadar pergantian istilah, melainkan perubahan paradigma besar dalam sistem pertahanan nasional Indonesia.
Selama ini, orientasi pertahanan Indonesia lebih banyak berfokus pada ancaman konvensional berupa agresi militer langsung. Namun perkembangan konflik global menunjukkan pola perang modern kini jauh lebih kompleks.
Perang Rusia-Ukraina misalnya, memperlihatkan dominasi penggunaan drone, satelit, kecerdasan buatan hingga peperangan elektronik. Sementara konflik di Timur Tengah menunjukkan pentingnya sistem pertahanan udara berlapis dan kemampuan serangan presisi.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan juga memperlihatkan bahwa persaingan antarnegara kini tidak hanya berlangsung lewat kekuatan militer, tetapi juga melalui teknologi, ekonomi, siber, diplomasi hingga operasi informasi.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dinilai menghadapi tantangan strategis yang jauh lebih kompleks dibanding banyak negara lain di kawasan Indo-Pasifik.
Ancaman terhadap kabel bawah laut, satelit, pelabuhan strategis, pusat data nasional hingga rantai pasok logistik dapat menimbulkan dampak besar terhadap keamanan nasional, bahkan tanpa adanya deklarasi perang secara terbuka.
Karena itu, Perisai Trisula Nusantara dirancang untuk memperkuat integrasi antarmatra TNI sekaligus membuka ruang kerja sama dengan berbagai sektor lain seperti keamanan siber, intelijen, industri pertahanan, penjaga pantai hingga pemerintah daerah.
Secara konsep, pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan berbagai strategi pertahanan modern yang dikembangkan negara-negara Indo-Pasifik.
Amerika Serikat misalnya mengembangkan konsep Joint All-Domain Operations (JADO) yang mengintegrasikan operasi darat, laut, udara, ruang angkasa dan siber dalam satu sistem terpadu.
Australia melalui Defence Strategic Review 2023 juga mengubah strategi militernya menjadi strategy of denial, yakni mencegah lawan memasuki wilayah strategis dengan kekuatan jarak jauh dan kemampuan maritim.
Jepang mengembangkan konsep Multi-Domain Defense Force, sedangkan Singapura memperkuat sistem Integrated Knowledge-Based Command and Control yang menitikberatkan superioritas informasi dalam operasi militer.
Load more