Sugiono Desak Revitalisasi ARF, ASEAN Diminta Lebih Sigap Hadapi Ancaman Keamanan Kawasan
- istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono mendorong, revitalisasi ASEAN Regional Forum (ARF) agar mampu merespons dinamika ancaman keamanan yang terus berkembang tanpa meninggalkan prinsip Sentralitas ASEAN.
Menurutnya, perubahan lanskap geopolitik kawasan menuntut ARF tidak lagi sekadar menjadi forum dialog, tetapi juga mampu menghasilkan langkah nyata dalam menjaga stabilitas regional.
Dalam Pertemuan ke-33 ARF di Manila, Filipina, Sugiono mengingatkan bahwa situasi strategis kawasan telah berubah drastis sejak forum tersebut pertama kali dibentuk pada 1994. Karena itu, ARF perlu memperkuat kapasitasnya agar tetap relevan menghadapi tantangan keamanan masa kini.
Meski demikian, Sugiono menegaskan revitalisasi bukan berarti mengubah mandat dasar ARF, melainkan memperkuat instrumen yang dimiliki agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Revitalisasi tidak berarti mengubah tujuan mendasar ARF. Revitalisasi berarti memperkuat perangkat yang dimiliki ARF agar lebih modern dan mampu menjawab tantangan nyata kawasan,” tegas Sugiono.
Selain mendorong pembaruan kelembagaan, Indonesia juga menekankan pentingnya implementasi Manila Plan of Action yang disepakati dalam pertemuan tersebut.
Menurut Sugiono, dokumen itu tidak boleh berhenti sebagai kesepakatan politik semata, tetapi harus diwujudkan melalui program-program konkret yang memberikan manfaat jangka panjang bagi kawasan.
“Ini membutuhkan ARF yang bersifat implementation-oriented, dimana seluruh program kerja ARF harus menjadi kemitraan yang konkret,” tegas Sugiono.
Indonesia juga menyambut keputusan ASEAN menerima Inggris sebagai anggota ke-28 ARF. Sugiono menilai perluasan keanggotaan harus berjalan seiring dengan upaya meningkatkan efektivitas forum agar tetap mampu menjadi wadah strategis bagi negara-negara di kawasan Indo-Pasifik.
Menutup pernyataannya, Sugiono mengajak seluruh anggota ARF memperkuat diplomasi preventif sebagai instrumen utama mencegah meningkatnya ketegangan menjadi konflik terbuka. Ia menegaskan prinsip-prinsip Treaty of Amity and Cooperation (TAC) harus tetap menjadi fondasi dalam setiap upaya menjaga perdamaian kawasan.
“ARF yang lebih matang akan dapat membentuk kawasan yang lebih stabil, damai dan aman, dan berkontribusi bagi perdamaian dunia, termasuk bagi Palestina,” pungkas Sugiono.
Pertemuan ke-33 ARF di Manila dihadiri oleh 27 negara anggota yang mewakili berbagai kawasan strategis dunia. Forum tersebut menghasilkan Manila Plan of Action 2026–2036, yang akan menjadi pedoman kerja ARF selama satu dekade ke depan. (agr/aag)
Load more