Bagaimana Memperkuat Portofolio Hospitality Indonesia di Tengah Persaingan Asia Tenggara? Ini Strateginya
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Industri hospitality Indonesia tengah menghadapi perubahan besar seiring meningkatnya mobilitas wisatawan dan persaingan antardestinasi di Asia Tenggara. Hotel tidak lagi hanya berkompetisi dalam menyediakan kamar, tetapi juga dituntut mampu menghadirkan layanan yang konsisten, distribusi yang luas, serta pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan bisnis maupun rekreasi.
Perkembangan tersebut terlihat dari pemulihan sektor pariwisata kawasan. Data ASEAN mencatat jumlah kunjungan wisatawan internasional ke negara-negara ASEAN mencapai sekitar 127,1 juta pada 2024.Â
Thailand menjadi salah satu pasar terbesar dengan 35,5 juta kunjungan, disusul Malaysia 25 juta, Vietnam 17,6 juta, Singapura 16,5 juta, dan Indonesia sekitar 14,3 juta. Pada periode yang sama, wisatawan dari sesama negara ASEAN menyumbang sekitar 38 persen dari total kedatangan internasional di kawasan.
Indonesia sendiri memiliki pasar domestik yang sangat besar sekaligus basis wisatawan mancanegara yang terus bertumbuh. BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara pada Desember 2025 mencapai 1,41 juta, sementara perjalanan wisatawan nusantara mencapai 105,98 juta perjalanan.Â
Namun, tingkat penghunian kamar hotel berbintang pada bulan tersebut berada di angka 56,12 persen. Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan mobilitas wisatawan tidak otomatis membuat tingkat hunian seluruh penginapan terus meningkat, sehingga pengelola perlu memikirkan strategi bisnis, segmentasi, distribusi, dan efisiensi operasional secara lebih terukur.
Belajar dari Destinasi dengan Ekosistem Hospitality yang Matang
Persaingan tersebut membuat pengembangan jaringan hotel semakin relevan. Negara-negara dengan industri pariwisata yang lebih matang menunjukkan bahwa kekuatan sektor hospitality tidak semata-mata bergantung pada jumlah properti, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem yang terintegrasi.
Singapura dapat menjadi salah satu contoh. Singapore Tourism Board mencatat 16,9 juta kunjungan wisatawan internasional sepanjang 2025, naik 2,3 persen dibandingkan 2024.Â
Penerimaan pariwisata pada tiga kuartal pertama 2025 juga mencapai S$23,9 miliar, meningkat 6,5 persen secara tahunan. Pemerintah Singapura menekankan pentingnya pengembangan produk, acara, dan pengalaman yang berbeda untuk mempertahankan daya saing destinasi.
Melansir dari Japan Tourism Statistics, Jepang juga menunjukkan bagaimana pengelolaan sektor pariwisata didukung oleh sistem data yang terstruktur. Japan National Tourism Organization menyediakan statistik mengenai jumlah wisatawan, asal pasar, tujuan perjalanan, wilayah yang dikunjungi, hingga pola pengeluaran wisatawan. Pendekatan berbasis data semacam ini membantu industri memahami perubahan perilaku pasar dan menentukan strategi pengembangan destinasi maupun akomodasi.
Load more