Jelang Muktamar NU, Gus Miftah Kirim Pesan Keras untuk Pemburu Jabatan
- Tangkapan layar YouTube Kota Santri
“Oleh karena itu, sangat tidak elok jika masih ada pihak-pihak yang bergerak di bawah tanah, berbisik di lorong-lorong Muktamar, lalu menjual nama Istana. ‘Sudah dapat restu,’ katanya. Atau, ‘Ini titipan Pusat,’ bisiknya,” kata Gus Miftah.
Ia bahkan secara tegas meminta agar siapa pun yang mengatasnamakan Presiden untuk meraih dukungan segera menghentikan praktik tersebut.
“Sekali lagi, siapapun itu, sudah sewajarnya berhenti menjual nama Presiden demi syahwat kekuasaan personal,” tegasnya.
Dalam pandangannya, NU merupakan salah satu tiang utama masyarakat sipil di Indonesia. Karena itu, muktamar tidak boleh direduksi menjadi arena perebutan pengaruh politik praktis.
“NU adalah tiang utama civil society di Indonesia. Jika tiang ini ikut digoyang oleh syahwat politik kekuasaan, runtuhlah atap moral bangsa ini,” ujarnya.
Gus Miftah juga menyinggung pentingnya kapasitas dan rekam jejak kepemimpinan bagi figur yang ingin memimpin organisasi sebesar NU. Ia mengutip pesan dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
“Man thalaba al-riyasata fadhahahu Allahu. (Siapa yang ambisius mengejar jabatan kepemimpinan, maka Allah akan menghinakannya),” tulisnya.
Menurutnya, kepemimpinan di NU bukan sesuatu yang harus direbut, melainkan amanah yang lahir dari semangat khidmah atau pengabdian.
“Muktamar di Tambakberas harus menjadi panggung yang gembira, bersih dari transaksional, dan bermartabat. Biarlah para kiai sepuh di jajaran Syuriyah dan para muktamirin yang membawa mandat akar rumput yang menimbang dan memutuskan dengan nurani jernih,” katanya.
Di akhir tulisannya, Gus Miftah menegaskan bahwa dirinya tidak berada di pihak kandidat mana pun. Ia menyatakan hanya ingin NU menjadi lebih baik di tengah tantangan besar yang dihadapi umat dan bangsa.
“Saya sebagai orang yang mencintai NU dan bukan bagian dari timses manapun, hanya ingin NU menjadi lebih baik ke depannya. Semata karena tantangan besar kini berada di depan mata nahdliyin,” tutupnya. (cmi)
Load more