Apakah Terjadi Tsunami saat Gempa NTT 15 Agustus 2026? Ini Penjelasan Resmi BMKG
- Pexels/GEORGE DESIPRIS
tvOnenews.com - Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa bumi kuat pada Sabtu (15/8/2026).
Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut mengguncang wilayah Flores pada Sabtu pagi pukul 04.58 WIB.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun tvOnenews.com dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu malam pukul 22.04 WIB, tercatat sedikitnya 345 unit rumah warga mengalami kerusakan parah hingga ringan.
- dok medsos @fujikaize
Sementara itu sejumlah fasilitas umum juga mengalami kerusakan. Data sementara yang diperbaharui BNPB pada 15 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, terdapat 87 fasilitas pendidikan rusak, 18 unit fasilitas kesehatan, 5 unit tempat ibadah, 6 unit kantor, hingga sejumlah fasilitas umum lainnya.
Kekuatan guncangan yang sangat tinggi dan berpusat di laut ini secara otomatis memicu kekhawatiran masyarakat pesisir akan potensi bencana susulan yang jauh lebih mematikan, seperti tsunami.
Lantas, apakah sempat terjadi tsunami saat gempa NTT M 7,7 pada 15 Agustus 2026?
BMKG sempat membunyikan alarm peringatan dini tsunami
- dok medsos @fujikaize
Sesaat setelah gempa utama terjadi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lewat akun resmi X-nya sempat menginformasikan bahwa sejumlah tsunami sempat terjadi akibat gempa M 7,7 di Mbae, Nagekeo, NTT.
Dalam unggahannya di X pada 15 Agustus 2026 pukul 05.50 WIB, BMKG menginformasikan bahwa terdeteksi tsunami dengan ketinggian 0,19 meter, 0,36 meter, dan 0,17 meter di Sikka dan Labuan Bajo, NTT serta Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tak hanya itu, BMKG juga mendeteksi tsunami di sejumlah wilayah lainnya, seperti Kawapante, Flores Timur, Maurole, Bakalang, Baubau, Bulu Kumba, hingga Kolaka dengan ketinggian yang bervariasi mulai dari 0,23 meter hingga 0,94 meter.
BMKG resmi mencabut status peringatan tsunami
- Dok. BMKG
Setelah sejumlah peringatan dini tsunami yang dilaporkan, BMKG akhirnya resmi mencabut status tersebut, setelah tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan mebahayakan.
"BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama, seperti dikutip dari siaran pers resmi BMKG.
BMKG mencatat bahwa pergerakan sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan kuat dan potensi tsunami.
Hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT.
BMKG masih terus memonitor perkembangan gempa bumi susulan serta dinamika tinggi muka laut secara real-time.
Selain itu, BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang dan menyaring setiap informasi, agar terhindar dari isu atau hoaks yang beredar.
BMKG juga mengimbau warga agar menjauhi serta memeriksa kondisi bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan struktur akibat guncangan gempa, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi susulan. (ism)
Load more