Tokoh Budaya Lombok Sayangkan Pemerintah Tak Punya Mitigasi Bencana pada Kampung Adat Sade
- ANTARA
Mataram, tvOnenews.com - Kebakaran Kampung Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah menjadi alarm keras terhadap sistem perlindungan kawasan warisan budaya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Komunitas Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menilai kebakaran harusnya menjadi evaluasi menyeluruh terhadap sistem mitigasi dan perlindungan kawasan warisan budaya.
"Kampung adat kami mayoritas bermaterial ilalang dan bambu yang sangat rawan terbakar, tetapi mitigasi bencananya nol," ujar Ketua LHSS Muhammad Ali Akbar di Mataram, Minggu
Ali mengatakan kondisi kampung adat yang menggunakan material organik belum diimbangi dengan sistem mitigasi bencana yang memadai, termasuk proteksi kebakaran mandiri dan pengamanan instalasi listrik di kawasan permukiman adat.
Ia menilai pemerintah bersama masyarakat perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem proteksi kebakaran di seluruh desa adat untuk mencegah kejadian serupa terulang.
"Kebakaran tersebut menimbulkan efek kehilangan yang tak ternilai dengan uang. Kampung Adat Sade adalah ikon budaya hidup (living heritage) utama Pulau Lombok," kata Ali.
Menurut dia, kebakaran tersebut mengancam keberadaan arsitektur vernakular Suku Sasak yang autentik serta ruang sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan ritual harian masyarakat.
Selain aspek budaya, kebakaran juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat adat yang menggantungkan penghasilan dari ekonomi kreatif berbasis kain tenun.
"Kami kehilangan arsitektur vernakular Suku Sasak yang otentik dan ruang sosial tempat ritual harian warga. Selain itu, ekonomi kreatif warga lewat kain tenun juga lumpuh total," ucap Ali.
LHSS menyarankan proses pemulihan pascakebakaran tidak hanya berorientasi pada pembangunan kembali bangunan fisik, tetapi juga diarahkan pada masyarakat dan pengetahuan budaya yang menjadi fondasi kehidupan Kampung Adat Sade.
Komunitas yang aktif meneliti, mengkaji, serta melestarikan sejarah, situs, dan warisan budaya Sasak di Pulau Lombok tersebut mendorong pemberdayaan masyarakat adat menjadi bagian utama dalam proses pemulihan Kampung Adat Sade.
"Fisik bangunan bisa dibangun kembali, artefak bisa kita data ulang, tetapi memori kolektif, tradisi lisan, dan keahlian menenun melekat pada manusianya. Selama masyarakat adatnya berdaya, kebudayaan Kampung Adat Sade tidak akan pernah mati," kata Ali.
Sebelumnya, kebakaran melanda Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (22/8) malam.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, sebanyak 89 rumah mengalami rusak berat akibat kebakaran tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
Api berhasil dipadamkan pada Minggu sekitar pukul 05.00 WITA setelah tim gabungan melakukan pemadaman sepanjang malam.
Rumah-rumah di kawasan adat tersebut menggunakan material yang mudah terbakar, antara lain kayu, bambu, dan ilalang.
Kampung Adat Sade merupakan kawasan permukiman masyarakat Suku Sasak yang hingga kini mempertahankan bentuk rumah dan tata kehidupan tradisional.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan pemerintah daerah berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan terkait penanganan dampak kebakaran tersebut.(ant)
Load more