Viral Wisatawan Dimintai Uang "Saredona" di Talaga Bodas Garut, Begini Penjelasan Polisi
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan dua wisatawan yang diminta sejumlah uang oleh seorang pria yang belakangan ini diketahui sebagai tukang ojek setempat.
"Sebetulnya ini enggak bisa (bawa masuk motor), mau orang mana-orang mana juga. Karena ini tanggung sudah masuk, jadi silakan saja (bayar) seikhlasnya," kata pria ber-hoodie berbahasa Sunda dalam video yang viral.
Terkait hal ini, pihak kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang.
Kepala Polsek Wanaraja AKP Abusono mengatakan pemeriksaan ini dilakukan untuk menindaklanjuti keluhan wisatawan terkait dugaan pungutan liar (pungli) di Talaga Bodas.
"Kita undang (terduga pelaku pungli) duduk bareng BKSDA (pengelola wisata) dengan yang bersangkutan itu, Karang Taruna, kita komitmen menjaga kondusivitas wisata," ujarnya, Senin (24/8/2026).
Abusono memaparkan dua wisatawan itu berwisata ke Talaga Bodas pada Kamis (20/8/2026) pagi saat kondisi tempat wisata masih sepi.
Usai berwisata, oleh salah seorang warga yang merupakan ojek setempat diminta uang sebesar Rp40 ribu dan tiketnya Rp10 ribu.
Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, diketahui orang yang diduga melakukan pungli dalam video tersebut, yakni pria berinisial M (46).
M merupakan warga setempat sekaligus tukang ojek khusus jasa angkutan wisatawan dari pos utama ke kawasan Talaga Bodas.
Tukang ojek di tempat wisata itu mendapatkan laporan dari petugas jaga adanya dua wisatawan yang masuk menggunakan kendaraan sepeda motor menuju Talaga Bodas.
Dia lantas menjelaskan terkait aturan kunjungan ke Talaga Bodas harus menggunakan jasa angkutan ojek dengan tarif Rp10 ribu per orang untuk satu kali perjalanan, sehingga totalnya untuk dua orang diminta Rp40 ribu.
"Aturannya wisatawan itu hanya diperbolehkan sampai warung. Kalau mau ke Talaga Bodas bisa jalan kaki atau naik ojek. Jasa ojek itu sudah disepakati antara Karang Taruna sebagai pengelola ojek dengan BKSDA," terangnya.
Kenyataan di lapangan, sambung dia, wisatawan tersebut datang terlalu pagi menggunakan sepeda motor sendiri menuju Talaga Bodas karena tidak ada tukang ojek.
Saat pulang, mereka diminta uang sebagai kompensasi karena sudah masuk menggunakan kendaraan bermotor.
Abusono mengatakan kejadian itu terjadi kesalahpahaman, sehingga diselesaikan hanya diberikan pembinaan terhadap ojek yang bersangkutan untuk menjaga kawasan wisata lebih aman dan nyaman.
"Makanya kita lakukan pembinaan saja. Kalau pun itu dikatakan pungli, ya mungkin itu persepsi juga. Kita belum bisa mengatakan itu pungli ya karena di sana itu sudah ada kesepakatan antara BKSDA dengan Karang Taruna di situ," terangnya. (ant/nsi)
Load more